Menguak Kisah B.M. Diah, Sang Pahlawan Penyebar Berita Kemerdekaan Indonesia

Gelar pejuang memang identik dengan mereka yang berada di garis depan peperangan. Namun, jika menyebut nama Burhanuddin Mohammad Diah, sosok tersebut juga pantas mendapat gelar pahlawan. Mungkin namanya tak sepopuler Diponegoro atau Soedirman, namun sejatinya hingga akhir hayatnya, B.M. Diah terus berjuang dengan pemikiran-pemikirannya yang bermanfaat untuk Negara.
Perjuangan tersebut mungkin yang paling jarang disadari. Namun, percaya atau tidak, tokoh B.M. Diah memiliki peran yang begitu besar dalam penyebaran kemerdekaan Indonesia hingga ke pelosok negeri. Seperti apa sebenarnya figur yang telah menyampaikan pesan kemerdekaan ini? Berikut ini adalah sekilas tentang sosok pahlawan yang harusnya dikenal masyarakat Indonesia.

Cinta Indonesia, B.M. Diah tidak mau menjadi murid pengajar Belanda

B.M. Diah dulunya semepat bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School. Namun, ia merasa tidak senang ketika harus menempa pendidikan dengan pengajar orang Belanda. Ia pun memutuskan untuk pindah ke Taman Siswa di Medan. Hingga berusia 17 tahun, B.M. Diah pun pergi ke Jakarta untuk belajar di Ksatrian Institut.
BM. Diah [image source]
Di sekolah tersebut pula ia belajar jurnalistik dan menjadi wartawan yang handal. Meski saat itu ia tidak memiliki biaya, namun tekatnya untuk belajar membuat gurunya, Dr. EE Douwes Dekker merasa iba dan akhirnya mengizinkannya tetap belajar, sekaligus menjadi seorang sekretaris di sekolah.

Pernah bekerja di Radio Hosokyoku di bawah kendali Jepang

Pada masa penjajahan Jepang, Diah pernah bekerja sebagai penyiar siaran berbahasa Inggris di Radio Hosokyoku. Selain itu, di saat yang bersamaan ia juga bekerja di Asia Raja. Namun, hal itu diketahui pihak Jepang. Kesal dengan kenyataan itu, Jepang pun menjebloskan Diah ke penjara selama empat hari.
B.M. Diah [image source]
Hikmah yang bisa dipetik Diah adalah, ia bertemu dengan Herawati selama bekerja dengan Jepang. Seorang penyair lulusan jurnalistik dan Sosiologi di Amerika Serikat yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pada tanggal 18 Agustus 1942, mereka pun akhirnya menikah. Resepsi pernikahan tersebut juga dihadiri oleh presiden Soekarno.

Proses dan Penyebarluasan Proklamasi Kemerdekaan

Penyebaran berita proklamasi tersebut berawal dari pesan Drs. Moh. Hatta kepada B.M. Diah, yang saat itu turut hadir dalam perumusan teks proklamasi. Pada tanggal 16 Agustus 1945, teks proklamasi telah selesai dirumuskan. Para pekerja radio pun terus menyiarkan tentang berita kemerdekaan.
B.M. Diah turut terlibat dalam penyusunan teks proklamasi [image source]
Namun, Jepang berusaha untuk meralat berita itu, hingga akhirnya kantor berita tersebut disegel. Upaya Jepang ternyata tidak menyurutkan B.M. Diah dan rekan-rekannya untuk terus menyebarkan berita proklamasi dengan mencetak pamphlet, dan juga surat kabar seluas-luasnya, bahkan sampai ke pelosok Indonesia.

Menaklukkan Percetakan Jepang

Pada bulan September 1945, setelah diumumkannya Proklamasi Kemerdekaan, Jepang memang masih banyak di Indonesia. Pada bulan tersebut, B.M. Diah dan beberapa rekannya memutuskan untuk mengangkat senjata dan berusaha merebut percetakan “Djawa Shimbun” yang menerbitkan Harian Asia Raja.
BM. Diah bersama Rosihan Anwar [image source]
Meski awalnya sempat ketar-ketir, mengingat pasukan Jepang yang bersenjata, namun yang terjadi justru sebaliknya. Pihak Jepang yang menjaga percetakan tidak melakukan perlawanan, bahkan mereka menyerahkan percetakan pada B.M. Diah dan teman-temannya.

Penghargaan dan akhir hayatnya

Berkat jasanya, Diah pun menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto pada 10 Mei 1978. Ia juga meraih penghargaan berupa medali perjuangan angkatan 45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada 17 Agustus 1995.
sosok Herawati, istri B.M. Diah [image source]
Namun pada 10 Juni 1996, Diah mengembuskan napas terakhir akibat penyakit stroke. Menurut penuturan istrinya, hingga saat terkakhir, Diah masih terus bekerja. Herawati mengatakan jika suaminya adalah wartawan nasionalis sejati yang mementingkan Negara. Meski tak banyak mengangkat senjata dan berada di jalur depan pertempuran melawan penjajah, namun jasa-jasa yang diberikan B.M. Diah pada Negara memang tak main-main. Tanpa adanya perjuangan Dian dan rekan-rekannya, berita kemerdekaan mungkin tak akan diketahui masyarakat tempo dulu. Semoga semangat B.M. Diah dalam mencintai Negara dan berkarya menjadi warisan generasi muda masa kini.
Share:

Ivan Kats, CIA, Goenawan Mohamad & Kekerasan Budaya Pasca 1965

yakni bisa kita duga soal keterlibatan Amerika melalui CIA dalam pembentukan Kompas dan Tempo. CIA diwakili oleh Ivan Kats membangun konsep dan saling berkirim korespondesi dengan PK Ojong yang akan mendirikan kompas dan Gunawan Mohamad muda membangun media Tempo.
Media Kompas, Tempo Pintar Menyembunyikan Misi Ideologisnya
Tak bisa dipungkiri media besar adalah alat propaganda dan ideologis, "Media besar itu seperti Kompas, Tempo dan lainnya pintarnya mereka bisa  menyembunyikan misi ideologisnya, dan mereka hanya menampilkan aspek-aspek yang bersifat humanisnya, tetapi misi ideologisnya bisa mereka sembunyikan" imbuh Munarman.
Misi ideologis seperti apa?
Munarman menambahkan " misi ideologisnya adalah membangun sebuah tata peradaban, sistem dan tata nilai yang bertentangan dengan nilai Islam, yaitu Sepilis (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) atau yang mereka sebut dengan demokrasi sebetulnya."
Contohnya saja media Kompas, kita bisa lihat pada awal tahun 1960-an. Kita bisa cek dari buku 'Kekerasan Budaya Pasca 1965' karya Wijaya Herlambang.
Dalam buku yang ditulis yang aslinya adalah tesis Wijaya Herlambang yang diterbitkan oleh Marjin Kiri ini merupakan berhaluan kiri dan seorang dosen di Jakarta, bukan itu yang ingin kita bahas, melainkan ia berhasil menelanjangi keterlibatan CIA dalam pendirian Kompas dan Tempo yang kini bagai gurita media di Indonesia.
"Dalam buku itu datanya lengkap, membuka siapa itu Gunawan Mohamad dan PK Ojong. Mereka berdua berhubungan erat dengan Ivan Kats, seeorang Agen CIA yang masuk ke dalam CCF (Congres For Cultural Freedom) berpusat di Prancis untuk menggalang anti komunis dan menyebarkan ide SEPILIS. Dan termasuk pendirian Kompas dan Tempo atas dorongan dari Ivan Kats. Maka jika mereka sudah berhubungan dengan intelijen begitu maka bisa kita duga, sekali lagi bisa kita duga ada campur tangan CIA dalam pendirian kedua media itu (Kompas dan Tempo), begitu cara melacaknya." urainya rinci.
Demikian halnya dengan media Islam, harus menjadi propaganda Islam, bukan hobi semata menurut Munarman, "Ini benar-benar pertempuran ideologis, bukan sentimen kita seneng dengan Islam, karena Islam itu bukan hobi, bukan untuk disenangi, Islam itu untuk dijalankan (dalam kehidupan kita sehari-hari)"
Mudahnya ia merujuk pada buku berjudul 'Kekerasan Budaya Pasca 1965'.
Dalam situs Indoprogres, TULISAN ini merupakan catatan tentang politik kebudayaan liberal pasca 1965 dan peran yang dimainkan Goenawan Mohamad di dalamnya. Motivasi awalnya datang dari pembacaan atas penelitian Wijaya Herlambang dalam bukunya, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Dalam tulisan ini, saya akan (1) menguraikan data-data baru tentang tema terkait yang didapat dari buku Wijaya maupun dari penelusuran saya secara langsung ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, (2) menjelaskan bagaimana anatomi gagasan dari politik kebudayaan berbasis eksistensialisme Camus, (3) menunjukkan peran Goenawan Mohamad sebagai makelar kebudayaan dalam membentuk selera intelektual Indonesia, dan (4) memperlihatkan kaitannya dengan konsolidasi kapitalisme di Indonesia pasca 1965.
Liberalisme Borongan: Cicilan $50
Dalam bukunya, Wijaya menunjukkan keberadaan suatu lembaga filantropi bernama Congress for Cultural Freedom (CCF) hasil bentukan CIA pada tahun 1950 yang dimaksudkan sebagai covert action untuk ‘menciptakan dasar filosofis bagi para intelektual untuk mempromosikan kapitalisme Barat dan anti-komunisme.’[1] CCF ditempatkan di bawah kendali Office of Policy Coordination (OPC) yang diketuai oleh Frank Wisner, seorang pejabat CIA yang terlibat dalam perencaaan pemberontakan PRRI/Permesta 1957-1958.  Wijaya juga menunjukkan bahwa dari CCF itulah dibentuk yayasan Obor internasional yang diketuai Ivan Kats, seorang perwakilan CCF untuk Program Asia. Yayasan Obor internasional (Obor Incoporated) yang berkedudukan di New York inilah yang menjadi induk dari yayasan Obor Indonesia yang diketuai Mochtar Lubis.[2]  Melalui yayasan tersebut, ide-ide yang ‘secara filosofis’ mempromosikan kapitalisme Barat dan sikap anti-komunis disemai.
Dalam bukunya, Wijaya menunjukkan keberadaan surat-surat antara Goenawan Mohamad dan Ivan Kats sejak 1968-1973 yang katanya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.[3] Setelah saya memeriksanya dari PDS H.B. Jassin, ternyata saya temukan bahwa korespondensi yang terarsipkan di sana bahkan juga mencakup tahun-tahun yang lebih awal, yakni sejak 1965. Lagipula surat dari tahun 1965 itu merupakan sambungan pembicaraan sebelumnya[4], sehingga dapat dipastikan bahwa korespondensi itu terjadi hingga entah sebelumnya. Bahkan dalam sebuah surat (dalam kumpulan surat dari tahun 1965) berbentuk memo sepanjang tiga halaman dengan kop surat bertanda ‘Congrès pour la Liberté de la Culture’ (terjemahan Prancis dari ‘Congress for Cultural Freedom’), disebutkan persoalan tindak lanjut atas Manifes Kebudayaan. Dalam surat itu, Goenawan diminta untuk menulis pamflet yang bercerita tentang upaya-upaya PKI dalam menghancurkan identitas  dan pengalaman kultural dari mereka semua yang tidak berpihak padanya. Secara spesifik Kats menginstruksikan agar Goenawan menuliskannya dalam ‘middle level abstraction—not too highbrow’ dan dengan arahan agar isi tulisan itu memuat ‘lebih banyak cerita. Sedikit analisis.’ (Saya teringat arahan Erman Koto pada para penari dalam film The Act of Killing: ‘Ya. Lebih hot. Lebih hot.’).  Berikut saya tampilkan selengkapnya Surat A tersebut.
Surat Ivan Kats-Goenawan Mohamad 1965 h1
Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 1965, h. 1.
Tampak bagaimana Ivan Kats tampil serupa ‘manajer politik’ bagi Goenawan Mohamad. Dari situ juga bisa muncul dugaan bahwa korespondensi dan koordinasi ini sudah terjadi sejak sebelum 1963, tahun dideklarasikannya Manifes Kebudayaan, dan tidak hanya melibatkan Goenawan saja, tetapi para budayawan simpatisan PSI lainnya seperti Mochtar Lubis, Arief Budiman, Soedjatmoko, P.K. Ojong, dll. Artinya, boleh jadi Manifes tersebut dirancang dalam koordinasi dengan CCF dan, implikasinya juga, CIA.
Dugaan tentang keterkaitan antara Manifes Kebudayaan dengan CCF juga disinyalir oleh Wijaya dalam bukunya. Manifesto CCF berjudul ‘Manifesto of Intellectual Liberty’ memiliki kemiripan dengan Manifes. Para intelektual yang ikut dalam acara deklarasi CCF di Berlin tahun 1950 menyatakan: ‘Kebudayaan hanya dapat ada di dalam kebebasan, dan kebebasan itulah yang dapat membawa pada kemajuan kebudayaan’—ungkapan yang senafas dengan semangat Manifes Kebudayaan.[5] Istilah ‘humanisme universal’ sendiri, seperti diduga Joebaar Ajoeb, berasal dari A. Teeuw dan diadopsi secara luas oleh H.B. Jassin, sementara kedua kritikus sastra itu mulai berkolaborasi antara 1947-1951, yakni masa-masa ketika CCF sedang dibentuk.[6] Keikutsertaan Jassin dalam proyek kebudayaan CCF ini juga diperkuat oleh surat Jassin pada Goenawan pada tahun 1966, yang menyatakan bahwa Ivan Kats meminta Jassin menulis artikel sepanjang 3000-4000 kata tentang ‘perdjuangan kemerdekaan kebudajaan di lapangan sastra tahun 1957-1965.’[7]
Dalam sebuah surat pada tahun 1969 yang akan dilampirkan berikut, Kats juga mengajukan arahan menarik. Ia meminta agar dalam tulisannya, Goenawan menjadikan pemikiran Prancis sebagai contoh paradigma kebudayaan yang dapat diterapkan di Indonesia. Dalam amatan Kats, pemikiran Prancis bisa tumbuh demikian tersohor dalam dunia pemikiran kontemporer (pasca-Perang Dunia II) karena tradisi pemikiran itu menyeleksi tendensi-tendensi pikiran asing mana saja yang boleh dan tidak boleh masuk Prancis. Kats menulis: ‘Pemikiran asing umumnya dikesampingkan dari konstruksi ini, sampai tiba waktunya seorang penafsir-makelar (interpreter-middleman)Prancis memutuskan bahwa ada sesuatu dalam pemikiran asing itu yang berguna bagi Prancis.’[8] Salah satu aliran pemikiran yang dikesampingkan dari industri filsafat Prancis adalah, seperti disebut Kats sendiri, empirisisme logis Lingkaran Wina. Hal yang serupa juga diminta Kats pada Goenawan berkenaan dengan lalu-lintas wacana pemikiran di Indonesia: menyortir tendensi filsafat sesuai kepentingan ‘Indonesia’ (sebuah kata yang pada masa itu punya acuan yang sama dengan kata ‘Orde Baru’). Secara spesifik ia meminta Goenawan untuk menerjemahkan karya salah satu pemikir Barat, antara lain Albert Camus, dan memberikan kata pengantar yang berkesan tentangnya. Kats menjanjikan akan membayar $50 sebagai uang muka, $50 lagi di belakang, serta upah terjemahan. Selengkapnya surat itu adalah sebagai berikut.
Rupanya arahan untuk mempromosikan pemikiran Albert Camus ini cukup serius di mata Kats. Ia sampai mengulangnya beberapa kali dalam surat-surat selanjutnya.[9] Kats bahkan lebih spesifik lagi meminta Goenawan untuk memasukkan esai awal Camus, “L’Envers et l’endroit,” dalam tulisan Goenawan tentang pemikir itu.[10] Tulisan Goenawan itu baru muncul jauh kemudian, pada tahun 1988, sebagai pengantar berjudul ‘Camus dan Orang Indonesia’ pada buku terjemahan Camus, Krisis Kebebasan. Penerbitnya adalah Yayasan Obor Indonesia.
Pertanyaannya kemudian: Mengapa Albert Camus? Mengapa, lebih spesifik lagi, “L’Envers et l’endroit” yang diminta Kats? Mengapa pemikiran Prancis yang disarankan sebagai paradigma kebudayaan Indonesia? Bagaimana menjelaskan keterkaitannya dengan proyek politik kebudayaan liberal pasca 1965? Apa kaitannya dengan paham ‘humanisme universil’ dalam Manifes Kebudayaan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita jawab melalui rekonstruksi filsafat.
Anatomi Politik Absurditas
‘Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.’[11] Kalimat penutup buku Mite Sisifus karangan Albert Camus ini tentu memukau siapa saja yang baru pertama kali membacanya. Konon, karena membocorkan rahasia para dewa, Sisifus dikutuk untuk menjalankan hukuman yang paling mengerikan: mendorong batu besar ke puncak bukit untuk kemudian memandanginya menggelinding ke bawah dan ia mesti mendorongnya lagi ke puncak, terus mengulang ritus itu dalam keabadian. Ini adalah hukuman yang mengerikan persis karena hal itu sia-sia dan tanpa harapan.
Kisah Sisifus adalah cerita tentang nasib manusia. Hidup manusia adalah jalan panjang dan berulang menuju kematian. Tragis, memang. Namun sikap tragis adalah pertanda akan kesadaran. Orang yang tak sadar tak akan pula mengetahui ciri tragis eksistensinya. Sisifus bukan sekadar orang yang tertindas oleh nasib; lebih dari itu, ia sadar akan ketertindasannya. Lantas kemungkinan apakah yang dibukakan oleh kesadarannya itu? Tak lain adalah keberanian untuk mengatakan ‘Ya!’ pada absurditas eksistensinya, berkata ‘Ya!’ pada ketertindasannya. Pada akhirnya, ia seperti Oedipus yang mampu berkata: ‘Meskipun telah mengalami cobaan yang begitu banyak, usiaku yang lanjut dan kebesaran hatiku membuat aku menilai bahwa semuanya baik adanya.’[12] Maka inilah cara Camus mengakhiri mite Sisifus: ‘Perjuangan ke puncak gunung itu sendiri cukup untuk mengisi hati seorang manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.’[13]
Camus kerap jadi justifikasi para pendukung Manifes Kebudayaan untuk semacam politik yang ‘otentik’ secara eksistensial. Goenawan sendiri mengakui ini: ‘Banyak penulis “Manikebu” mengambil dongeng tentang Sisifus sebagaimana ditafsirkan oleh Albert Camus (Camus memang sering dikutip, semacam jadi mode, karena satu dan lain hal): manusia yang berikhtiar terus-menerus, sebuah maraton panjang tanpa garis finis yang jelas, sebuah perjalanan menuju anak tangga terakhir di kaki langit yang dicita-citakan—sebuah titik yang, bila dihampiri, ternyata menjauh lagi. Dengan pandangan antiutopian yang seperti itulah, naskah Manifes Kebudayaan merumuskan sikap kesenian dan pemikiran yang selalu merasa perlu mengambil jarak dari kekuasaan.’[14]
Dalam potongan “L’Envers et l’endroit” yang diterjemahkan dengan baik oleh Muhammad al-Fayyadl, dinyatakan oleh Camus: ‘Aku berdiri setengah berjarak dengan kemelaratan dan matahari. Kemelaratan mencegahku untuk percaya bahwa semuanya baik di bawah matahari dan di dalam sejarah; matahari mengajariku bahwa sejarah bukan segalanya.’[15] Boleh jadi kutipan semacam inilah yang disukai Ivan Kats dari CCF, sehingga memberikan arahan pada Goenawan Mohamad untuk menulis tentangnya. Judul L’Envers et l’endroit kerap diterjemahkan sebagai Betwixt and Between yang menggambarkan kondisi seseorang yang berada di tengah-tengah, tidak ini ataupun itu, tidak panas dan tidak dingin—ia menggambarkan sosok yang ‘setengah berjarak’ dari segala sesuatu, sosok medioker yang menjustifikasi dirinya dengan mengemasnya lewat label ‘otentik.’ Dalam kosakata kultural Indonesia saat ini, situasi ini terpotret dengan cemerlang dalam posisi ‘kelas menengah ngehe:’ menginginkan perubahan sosial tetapi sinis bila ada demo buruh, mengangankan kesetaraan tetapi jijik pada kolektivitas, mendambakan kebebasan tetapi lupa pada syarat adanya kebebasan itu sendiri, yakni pemilikan bersama atas sarana produksi kekayaan. Orang-orang yang punya hati baik tetapi lupa pada prasyarat kausal dari harapan-harapannya inilah yang menjadi sasaran empuk Kats. Diam-diam mereka digiring menjadi Sisifus. Dan dengan bangga dan puitis mereka mengikutinya. Sungguh kasihan: mereka kira mereka otentik. Saya tak bisa bayangkan betapa marahnya mereka bila mendapati bahwa mereka telah digiring jadi ‘Sisifus upahan’ yang dibanderol dengan harga sepersekian dari cicilan $50. ‘Oh Kirilov, jangan lagi kau bicara soal kebebasan!’
Lantas apa jadinya bila Sisifus dijadikan paradigma subjek politik ‘otentik’ untuk membaca kehidupan rakyat Indonesia? Kita bayangkan seorang buruh kebun berkata: ‘Meskipun saya hanya diupah Rp. 500 per sepuluh kilo sawit yang berhasil saya panen, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Kita bayangkan seorang pembantu rumah tangga berkata: ‘Meskipun saya hanya diupah sepertiga dari UMP dan sesekali digebuki oleh majikan, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Kita bayangkan seorang liberal berkata: ‘Meskipun pasar bebas bukanlah alat yang sempurna untuk mengalokasikan sumber daya secara adil, saya menilai bahwa hal itu  baik adanya.’ Kita bayangkan seorang aktivis mahasiswa berkata: ‘Meskipun gerakan politik berbasis moral kerapkali buntu, saya menilai bahwa hal itu baik adanya.’ Kita bayangkan seorang ekonom berkata: ‘Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar ditopang konsumsi berbasis kredit, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Kita bayangkan seorang pelaku pelecehan seksual berkata: ‘Meskipun saya melecehkanmu secara seksual, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Singkatnya: ‘Kita harus membayangkan, somehow, Marsinah berbahagia.
Apabila hal-hal itu mulanya demikian sulit kita bayangkan, adalah karena sumbangsih Goenawan Mohamad lah sehingga pernyataan-pernyataan itu jadi dapat dibayangkan, akrab dan lumrah. Mengapa demikian?
Makelar Filsafat Prancis: Formasi Selera Intelektual
Saya teringat akan kisah Borges yang dituturkan ulang oleh Foucault dalam Tatanan Hal Ihwal. Diriwayatkan bahwa di negeri Tiongkok, kenyataan dibagi dan diklasifikasi berdasarkan derajat kedekatannya dengan kaisar. Upaya membangun taksonomi semacam itu jugalah yang dijalankan oleh Goenawan dalam tulisan-tulisannya: mana yang sungguh merupakan puisi dan mana yang hanya slogan; mana yang berpolitik secara otentik dan mana yang sekadar politik kekuasaan; mana filsafat yang baik dan mana filsafat yang rendahan, positivistik, dsb. Jangan lupa bahwa ini merupakan kelanjutan yang konsisten dari arahan Ivan Kats[16] tentang perlunya seorang ‘penafsir-makelar’ yang akan menyortir pemikiran-pemikiran yang baik bagi ‘Indonesia’—dalam lingkup tema ‘kebebasan’ yang ditawarkan Congress for Cultural Freedom dan direstui oleh seksi Office of Policy Coordination di bawah CIA.
Apa yang dibentuk oleh Goenawan Mohamad adalah apa yang saya sebut sebagai ‘selera intelektual.’ Ia hendak membentuk semacam ‘setingan default’ atau ‘setelan pabrik’ dari paradigma berpikir intelektual Indonesia. Hal ini dapat diuji dengan cara yang sederhana. Dalam beberapa kali diskusi dengan teman-teman yang kerap membaca dan menggemari tulisan Goenawan, saya amati bahwa perdebatan akan meruncing ke satu/dua proposisi pokok yang tidak bisa dijustifikasi oleh argumen rasional yang lebih mendasar lagi. Proposisi-proposisi semacam itu, antara lain ‘kebebasan berpikir’ atau ‘kemanusiaan,’ adalah ‘setelan pabrik’ si kawan yang tercipta dari internalisasi tulisan-tulisan Goenawan selama bertahun-tahun. Dalam situasi seperti itu, bahkan bila saya menanyakan lebih jauh, misalnya, ‘apa syarat-syarat material dari adanya sesuatu yang Bung sebut “kebebasan berpikir” dan “kemanusiaan” itu?’ maka kawan itu akan kebingungan, karena selama ini ia mengganggap proposisi tersebut sudah self-evident, sudah jelas dengan sendirinya dan tak mungkin dipertanyakan lagi. Pada detik itu, saya tahu bahwa saya tengah berhadapan dengan sejenis robot Forex.
Cara bekerja ‘selera intelektual,’ karenanya, menyerupai apa yang disebut Althusser sebagai ‘aparatus ideologis negara.’ Pembentukan selera semacam ini pada hakikatnya adalah internalisasi mekanisme sensor. Apa yang disensornya adalah proposisi filosofis tertentu yang didefinisikan sebagai ‘gangguan’ terhadap operating system kultural yang telah terinstal dalam kepala si subjek. Dalam hal inilah dapat dikatakan bahwa kesusasteraan merupakan sarana ‘rekayasa sosial’ (social engineering). Justru di sinilah pernyataan Goenawan yang seolah tampak otentik—bahwa dengan sastra Lekra, ‘jang ada tjuma 1 Revolusi, 1000 slogan dan 0 puisi’[17]—menemukan ekspresinya yang paling kontradiktif. Distingsi yang ia coba bangun antara slogan dan puisi segera runtuh manakala kita menyadari bahwa puisinya adalah juga sarana formasi selera intelektual yang berperan dalam internalisasi mekanisme sensor kultural. Puisi-puisi Goenawan, karenanya, adalah juga himpunan slogan. Bedanya hanyalah bila puisi penyair Lekra tak coba menyembunyikan diri dari kemiripannya dengan slogan politik, puisi Goenawan telah menyaru demikian rupa sehingga tampak seperti sepotong puisi ‘murni.’ Meminjam analogi dari dunia periklanan, puisi-puisi Goenawan adalah seperti iklan kondom. Inilah ilustrasi dari yang tempo hari saya sebut sebagai ‘politik gratisan yang berkedok kesubliman.’
Melalui surat Kats 20 November 1969, kita juga jadi tahu mengapa pada perkembangannya kemudian, Goenawan banyak mempromosikan filsafat Prancis kontemporer. Setelah eksistensialisme sebagai tren mulai mengendur, maka dikemaslah secara ulang dan dipasarkan ke Indonesia sebagai pascamodernisme. Apabila kita perhatikan, pascamodernisme yang dipromosikannya sejak akhir 80-an sebetulnya tak jauh berbeda dari eksistensialisme madesu yang dipasarkan di era 60-an. Filsafat yang ia tawarkan adalah selalu filsafat yang mengeluh dan mengelus dada. Filsafatnya adalah filsafat yang senduseneng duit, celetuk teman saya. Ia mencoba mengemas ulang gagasan tentang emansipasi sosial yang sebetulnya inheren dalam filsafat Prancis kontemporer, dengan cara dipreteli konteks Marxis-Leninisnya dan dijangkarkan pada kegalauan psikologis. Unsur-unsur psikologis inilah yang berperan sebagai komando yang memoderasi tuntutan emansipasi pada taraf yang dapat diterima secara normatif dan dapat dibrokerkan dengan negara dan para penyandang dana. Di tangan Goenawan, Zizek dan Badiou jadi tak punya taring dan perannya disubordinatkan pada pemikir-pemikir Prancis lain yang ia pikir lebih dapat diintegrasikan pada tradisi liberal: Derrida, Laclau, Lacan, dsb. Tak pelak lagi, ini adalah manifestasi dari politik kebudayaan pejabat kolonial yang dikerjakan seturut arahan Tuan Besar Gubernur Jendral CCF, Meneer Ivan Kats. ‘Hei Rinkes, jangan lagi kau bicara soal peradaban!’
Pada Suatu Pagi Ketika Komunisme Tak Ada Lagi
Apa konsekuensi semua ini bagi proses konsolidasi kapitalisme di Indonesia pasca 1965? Semua itu berjalan ‘step demi step,’ seperti telah dinubuatkan Anwar Congo. Saya sepakat dengan Wijaya yang menyatakan dalam penelitiannya bahwa Goenawan Mohamad turut berperan serta dalam penumpasan komunisme secara intelektual. Namun lebih jauh lagi, saya juga berpendapat bahwa Goenawan turut berpartisipasi dalam proses konsolidasi kapitalisme di Indonesia pasca 1965. Ia memang kerapkali memberikan ‘sentilan-sentilun kritis’ terhadap kapitalisme di berbagai tulisannya. Tetapi agaknya, sikap kritis semacam itu hanyalah langkah penyimpulan ad hoc yang tidak dideduksikan secara langsung dari dalam asumsi-asumsi dasar posisi pemikirannya. Buktinya adalah ketika pertanyaan tentang masalah alternatif sistem ekonomi ditawarkan secara eksplisit kepadanya, ia tanpa ragu memilih kapitalisme, sebagaimana nampak dalam laporan wawancaranya dengan Rizal Mallarangeng pada bulan Juni 1996 berikut ini:
‘Jadi masalah yang paling penting adalah yang berhubungan dengan peran birokrasi. Bagi Goenawan Mohamad, satu-satunya cara yang mungkin dilakukan untuk mengatasi atau memperkecil masalah tersebut adalah dengan melaksanakan kebijakan deregulasi. Dengan kata lain, dia menerima pandangan bahwa “jalan kapitalis” saat ini perlu, necessary, dan baik untuk Indonesia. Benar bahwa sebagai seorang humanis dia memiliki beberapa keberatan atas sistem kapitalisme secara umum. Kendati demikian, menurut pendapatnya, tak ada alternatif yang lebih baik. “Kalau Anda mau menyingkirkan kaum kapitalis,” katanya, “Anda harus siap berada di bawah dominasi kaum birokrat.”’[18]
Dan berada di bawah dominasi kaum birokrat, di bawah Partai, adalah mimpi buruknya sebagai seorang liberal. Ivan Kats telah memastikan agar mimpi buruk itu tak jadi milik Goenawan semata, tetapi juga semua yang membaca tulisan Goenawan. Dengan turut membangun dikotomi kultural yang absurd antara kapitalisme dan otoritarianisme, antara ‘atmosfer kebebasan’ dan komunisme yang mencekik, itulah Goenawan menyiapkan prakondisi epistemik bagi terkonsolidasinya kapitalisme di Indonesia pasca 1965. Ia membuat kapitalisme jadi wajar.
Setelah memahami konteks ini, kita jadi mengerti mengapa ia pada akhirnya turut melawan Orde Baru. Sebab Orde Baru adalah manifestasi kapitalisme-negara, suatu kapitalisme yang bercorak otoritarian, suatu kapitalisme yang tidak konsisten dengan postulat liberalnya sendiri. Maka perlawanan Goenawan terhadap Orde Baru, dalam arti itu, bukanlah perlawanan kaum Kiri terhadap kapitalisme. Itu adalah perlawanan seorang liberal tulen terhadap kapitalisme yang inkonsisten. Saya sepakat dengan pernyataan Wijaya bahwa kendati Komunias Utan Kayu yang dibangunnya merupakan salah satu simpul perlawanan atas Orba yang mengakomodasi suara para mantan tapol ’65 dan gerakan Kiri, ‘pendekatan Goenawan tersebut harus diletakkan dalam kerangka prinsip-prinsip liberalisme yang telah ia pertahankan sejak 1960an.’[19] Tujuannya ialah mengembalikan kapitalisme dan liberalisme dalam wujudnya yang sejati, yang non-otoritarian: suatu kapitalisme dan liberalisme yang kaffah, yang murni dan konsekuen. Pasar persaingan sempurna yang ditopang oleh eongan-eongan kedaifan, sejumput puisi dan segurat justifikasi bagi politik etis. [bersambung....]

[1] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Jakarta: Marjin Kiri, 2013), h. 65-66.
[2] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 95-96.
[3] Ibid (lih. catatan kaki no. 118).
[4] Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 16 Desember 1965.
[5] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 85.
[6] Lih. Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 84 (catatan kaki no. 77).
[7] Surat H.B. Jassin – Goenawan Mohamad, 28 Juni 1966.
[8] Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 20 November 1969.
[9] Lih. surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 24 Januari 1970, 5 April 1970, 21 Mei 1970, 20 Oktober 1970 & 22 Oktober 1970.
[10] Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 22 Oktober 1970.
[11] Albert Camus, Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 159.
[12] Albert Camus, Mite Sisifus, h. 157.
[13] Albert Camus, Mite Sisifus, h. 159.
[14] Goenawan Mohamad, “Affair Manikebu, 1963-1964” dalam Eksotopi (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2002), h. 128-129.
[15] Muhammad al-Fayyadl, “Mite Camus” dalam Sorge Magazine, November 2013, h. 12.
[16] Lih. surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 20 November 1969.
[17] Goenawan Mohamad, “Tjatatan Kebudajaan: Ketika Manifes Kebudajaan Dilarang,” dalam majalah Horison, Mei 1967, h. 131.
[18] Rizal Mallarangeng, Mendobrak Sentralisme Ekonomi: Indonesia 1986-1992 (Jakarta: KPG & Freedom Institute, 2004), h. 140.
[19] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 308. Sumber
Share:

Ibu Siti Manggopoh, Singa Betina Dari Ranah Minang

Ibu Siti Manggopoh, Singa Betina Dari Ranah MinangAda yang sedikit terlupakan dari catatan sejarah Indonesia. Siti Manggopoh. Nama perempuan asal Minang ini memang tidak bergaung seperti RA Kartini yang dianggap sebagai tokoh pahlawan Indonesia. Padahal, jika ditelusuri lagi, Siti Manggopoh merupakan pahlawan perempuan dari Minangkabau yang mampu mempertahankan marwah bangsanya, adat, budaya dan agamanya. Bagaimana tidak, Siti Manggopoh tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting).

Ketika itu, perempuan-perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi sedang mengibarkan bendera perjuangan gender, dan pada saat itu Siti Manggopoh, perempuan pejuang dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatera Barat muncul sebagai perempuan dengan semangat perlawan terhadap penjajahan yang terjadi di negerinya.

Siti Mangopoh adalah pejuang wanita dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Dilahirkan bulan Mei 1880, Siti Manggopoh pada tahun 1908 melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting). Gerakan rakyat untuk menolak kebijakan belasting di Manggopoh disebut dengan Perang Belasting.Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau.Sebab, tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.

Peristiwa yang tidak bisa dilupakan Belanda adalah gerakan yang dilakukan Siti Manggopoh pada tanggal 16 Juni 1908. Belanda sangat kewalahan menghadapi tokoh perempuan Minangkabau ini sehingga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh.

Dengan siasat yang diatur sedemikian rupa oleh Siti, dia dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Sebagai perempuan Siti Manggopoh cukup mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain.

Perebutan benteng yang dilakukan Siti menyulut Perang Manggopoh. Akhirnya Siti bersama sang suami, Rasyid Bagindo Magek, berhasil ditangkap dan dipenjarakan tentara Belanda. Tapi, lantaran mempunyai bayi, Siti terbebas dari hukuman pembuangan.

“Ya. Saya sangat menyesal karena tidak semua tentara Belanda di benteng Manggopoh dibantai. Saya menyesal karena hanya 53 yang terbunuh. Saya menyesal karena ada dua orang yang lolos dan mengadu kepada kalian sehingga Nagari kami diporak-poranda!”

Itulah yang diucapkan Siti Manggopoh ketika diinterogasi tentara Belanda, apakah dia menyesali perbuatannya menyerang markas pasukan Belanda di Manggopoh sehingga kemudian dicari-cari, ditahan dan diancam dengan hukuman gantung. Siti Manggopoh memimpin Perang Belasting di Nagari Manggopoh yang terletak di wilayah barat Kabupaten Agam, 100 KM dari Kota Padang dan 60 KM dari Bukittinggi (Siti Manggopoh dan Perang Belasting-Berdikarionline).

Quote:Original Posted By Legenda Rakyat

Bahwasanya sejatinya Ibu Siti adalah seorang pendekar silat Minang. Diceritakan Ibu Siti pernah menewaskan 20 org perwira belanda dengan hanya bersenjatakan karih (kerisnya org minang). Caranya.. Ketika para perwira belanda lagi rapat di sebuah ruangan, saat pasukannya menguasai benteng, Ibu Siti masuk dengan tenang ke ruangan rapat perwira belanda tersebut. Para perwira kaget campur bingung, Ibu siti menghunus kerisnya dan membunuh semuanya satu persatu. Legenda ini terkenal sekali ditanah kelahiran Ibu Siti


Belanda memasukkan Siti Manggopoh dan Suaminya Rasyid ke penjara secara terpisah. Siti Manggopoh dan Suaminya mendekam dipenjara selama 14 bulan di penjara di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman dan 12 bulan di Padang. Selanjutnya, Rasyid divonis hukuman dibuang ke Menado dan meninggal di Tondano.

Setelah Republik ini merdeka pada tahun 1945, Siti Manggopoh dan kisahnya sempat terlupakan. Baru pada tahun 1957, orang mulai mengingat akan perjuangan heroik Siti Manggopoh. Pemerintah Sumatera Tengah yang beribukota di Bukittinggi mengirim satu tim ke Lubuk Basung dan memberikan bantuan ala kadarnya. Siti Manggopoh merasa senang. Bantuan yang ia terima dijadikannya sebagai modal untuk membuka warung kecil di depan rumahnya.

Pada tahun 1960, Kepala Staf Angkatan Darat Jend. Nasution mendengar cerita heroik perjuangan Siti Manggopoh. Ia sangat terharu sekali atas keperkasaan Siti Manggopoh. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke Manggopoh untuk menemui Siti Manggopoh. Ia mengalungkan selendang kepada Siti Manggopoh sebagai lambang kegigihan dan keberaniannya melawan penjajahan. Masyarakat Manggopoh jadi haru ketika Jend. Nasution membopong dan mencium wajah tua keriput itu. Pada tahun 1964, Menteri Sosial mengeluarkan Sk tertanggal 17 November 1964 No. Pal. 1379/64/P.K yang isinya menyatakan bahwa Siti Manggopoh berhak menerima tunjangan atas jasa kepahlawanannya sebesar Rp 850,-. Tetapi kabarnya hanya sekali saja Siti Manggopoh menerima tunjangan tersebut.

Siti Manggopoh meninggal di usia 85 tahun, pada 20 Agustus 1965 di Kampung Gasan Gadang, Kabupaten Agam.

Gelar Pahlawan Nasional memang seharusnya (kembali) diberikan terhadap Siti Manggopoh, karena perjuangannya telah diakui Pemerintah melalui Jenderal Besar AH. Nasution pada tahun 1964 dan dengan SK Menteri Sosial tahun 1964 yang sekaligus memberikan tunjangan atas kepahlawanannya

Share:

Gini Efeknya Jika Lo Berhenti Mastrubasi

Terserah lo mau ngaku ato nggak
tapi yang pasti sebagian besar dari pria pasti pernah melakukan masturbasi. Yang menjadi pembedanya, ada yang melakukan masturbasi terlalu sering, namun ada juga yang lebih sering lagi. tapi tau nggak sih ? kalo kita nggak mastrubasi dalam waktu yg lama mampu meningkatkan energi positif dan tingkat produktivitas yang tinggi.

Saya punya beberapa point yang diambil dari beberapa buku yg telah saya baca tentang Efek apa yang terjadi pada tubuh jika kita berhenti melakukan masturbasi setidaknya selama satu minggu. Penasaran, bukan? Langsung aja ke point yang pertama

1. Jika seorang pria tidak melakukan masturbasi selama seminggu, akan menstimulasi otak untuk berpikir bahwa istrinya semakin terlihat cantik. Hal ini adalah rangsangan otak ketika pria merindukan sebuah sentuhan, dan dia hanya akan melihat sang istri yang ada di depannya sebagai salah satu faktor untuk menciptakan pandangan yang begitu memesona.

2. Pria yang tidak melakukan masturbasi selama lebih dari satu minggu, maka tubuhnya akan mengalami kenaikan kadar serum testosteron. bahkan tak tanggung-tanggung, kenaikan tersebut sampai menyentuh angka hampir 45 persen!

3. Setelah bertahan tidak masturbasi selama lebih dari seminggu, maka yang akan terjadi pada pria adalah meningkatnya energi dan kreativitas. Hasilnya, produktivitas pun meningkat seiring berjalannya waktu.

4. Yang terjadi berikutnya cukup mengejutkan ketika Anda berhenti melakukan rutinitas masturbasi. Para ilmuwan pernah mengambil scan otak orang yang doyan dengan kebiasaan masturbasi dan membandingkannya dengan scan seorang pecandu narkoba. Hasilnya tampak serupa.

Nah, ketika Anda berhenti masturbasi, maka otak Anda akan terlihat 'bersih' tanpa pikiran-pikiran 'kotor'.

5. Beberapa orang yang telah berhenti melakukan masturbasi juga melaporkan bahwa aura mereka makin berkembang dan mereka mendapatkan perhatian lebih dari para kaum hawa di sekitarnya.

6. Manfaat lain yang dilaporkan oleh orang yang berhenti masturbasi adalah refleks lebih baik, berpikir lebih cepat, konsentrasi baik, energi bertambah, aura positif muncul, dan kemampuan untuk memahami orang lain serta kasih sayang terhadap pasangan makin tinggi.
Share:

10 Fakta Pulau Bali yang Jarang Diketahui Orang.

 Bali tidak hanya dikenal oleh orang Indonesia saja, namun hingga luar negeri. Tidak jarang pula orang luar negeri salah mengartikan Bali dan Indonesia. Sebagian orang di luar sana berpikir bahwa Bali dan Indonesia adalah dua tempat yang berbeda, padahal Bali merupakan bagian dari Indonesia. Namun, sejauh apa sih kamu sebagai orang Indonesia mengenal salah satu pulau yang dikenal dengan banyak wisatawan mancanegara di dalamnya? Berikut adalah 10 fakta tentang Bali.

1. Ternyata nama Bali sudah digunakan dan ada sejak tahun 914. Hal ini dibuktikan dari tulisan di Prasasti Blanjong, yang ditulis oleh Sri Kesari Warmadewa.








2. Pulau Bali sudah dihuni sejak 2000 tahun sebelum masehi, artinya pulau ini sudah ada penduduknya sudah 4 ribu tahun lamanya. Kebanyakan para penghuninya adalah orang ras Austronesia. Selain itu banyak orang India dan Tiongkok yang bermigrasi ke Pulau Dewata ini.





3 Ternyata sebelum Indonesia merdeka, Bali sudah menjadi destinasi yang populer. Salah satu buktinya adalah karya dari Margaret Mead-Gregory Bateston, Miguel Covarrubias Walter Spies, dan Collin PcPhee. Mereka membuat bali makin dikenal berkat karya yang dipublikasikan tahun 1930.






4. Tradisi ciuman massal atau lebih di kenal dengan nama Omed-omedan, di langsungkan sehari setelah perayaan Nyepi oleh warga Banjar Kaja Desa Sesetan, Denpasar. Pasangan pemuda-pemudi setempat akan bergiliran untuk maju untuk berciuman. Kemudian akan ada tetua desa yang datang untuk mengguyur mereka dengan air sampai basah. Ritual ini diyakini warga setempat dapat menghalangi desa mereka dari terserang wabah penyakit.

5. Bali memiliki lokasi sabung ayam terbanyak di Indonesia. Arena sabung ayam terdapat di semua area desa di Bali. Meski kebanyakan dari arena ini bersifat sementara saja di mana hanya digunakan pada hari-hari tertentu pelaksanaan upacara adat. Di Bali sabung ayam disebut dengan tajen yaitu sebuah permainan judi dengan mengadu ayam jago. Permainan ini merupakan permainan judi tertua yang ada di Bali.




6. Ritual Pengerebongan yang diadakan di Pura Petilan Kesiman, 8 hari setelah perayaan Kuningan, terbilang unik, karena selama prosesi banyak Penyungsung Pura (Umat Hindu) yang mengalami kesurupan. Pada saat bersamaan puluhan orang mengalami trance dan tiba-tiba berteriak histeris, menari, serta menusukan keris ke dada, uniknya mereka tidak terluka sedikit pun.




7. Setiap satu tahun sekali, kamu bisa menyaksikan ritual suci perkelahian antar pemuda di Desa Tenganan menggunakan daun pandan berduri, atau lebih dikenal dengan nama Perang Pandan. Ritual ini diadakan sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Indra, yaitu dewa Perang yang paling mereka segani. Layaknya perang di zaman kerajaan, mereka juga memakai tameng yang terbuat dari anyaman bambu.


8. Warga di Desa Trunyan, Kintamani memiliki tradisi pemakaman yang unik, di mana mereka tidak mengubur ataupun membakar mayat (ngaben) ala umat Hindu Bali pada umumnya. Mayat hanya diletakan begitu saja di atas tanah yang dikelilingi oleh pohon Taru Menyan. Anehnya, mayat-mayat di sana tidak menimbulkan bau. Konon harum pohon Taru Menyan lah yang menetralisir bau anyir mayat-mayat di sana.


9. Ritual pembakaran mayat yang dikenal dengan istilah Ngaben adalah wujud pembebasan jiwa manusia untuk kembali kepada Sang Pencipta. Ngaben juga menjadi sangat unik dengan keberadaan replika bangunan meru dan lembu yang disertakan dalam prosesi kremasi tersebut. Bahkan beberapa prosesi Ngaben yang digelar cukup besar dengan membuat meru dengan tinggi belasan meter, seperti salah satunya di lingkungan keluarga Puri Ubud sering menjadi pusat perhatian wisatawan di Bali.


10. Sebelum abad ke-20, jalak Bali bukanlah satu-satunya fauna asli Bali. Setidaknya ada mamalia besar seperti macan tutul, banteng dan macan kumbang yang pernah ada di daratan pulau Bali. Meski saat ini banteng masih dapat ditemui di Bali namun populasi mereka di alam liar telah habis, mereka yang dapat ditemui sudah dalam bentuk binatang peliharaan yang jinak.
Sedangkan macan kumbang dan macan tutul telah punah. Menurut “IUCN Red List of Threatened Species” jejak terakhir dari macan jenis ini ditemukan tahun 1937. Kini satu-satunya spesies hewan asli Bali yang masih dapat ditemui adalah jalak Bali. Namun sayang jumlah populasi burung ini juga kian memprihatinkan dan berada diambang kepunahan.

Share:

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa (Foto: Dok. lenteraedukasi.com)

”... Pertahankan bangsamu, pergunakanlah bahasa daerahmu dan pakailah pakaian daerahmu ....”
(Maria Walanda Maramis 1872 - 1924)


Maria Josephine Catharina Maramis. Itulah nama yang diberikan pasangan Bernadus Maramis dan Sarah Rotinsulu kepada putri cantiknya yang lahir tanggal 1 Desember 1872 di Desa Kema, pesisir Timur Minahasa. Kakak pertamanya Andries Alexander Maramis, yang juga seorang pahlawan dan kakak keduanya yang seorang perempuan bernama Antje (Ance).

Pada usia 6 tahun, Maria kecil ditinggalkan kedua orang tuanya karena sakit. Dan akhirnya, Maria dan kedua kakaknya tinggal bersama pamannya, Mayor Ezau Rotinsulu, kepala distrik Tonsea di Airmadidi. Biar Agan tahu, pangkat Mayor di masa itu sejajar dengan gelar Bupati di tanah Jawa.

Oleh pamannya, Maria kecil dan kedua kakaknya disekolahkan di Sekolah Rakyat (sekolah pribumi) selama 3 tahun sampai lulus. Namun cuma kakak laki-laki pertamanya, A.A Maramis, yang melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi. Penyebabnya, masalah ekonomi dan tradisi buruk saat itu yang beranggapan kalau perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Maria kecil sedih tidak bisa meneruskan sekolahnya. Namun dia pantang menyerah. Baginya, belajar bisa di mana saja dan apa saja. Dari bibinya, Ny. Rotinsulu, Maria kecil belajar banyak hal, seperti pelajaran tata krama pergaulan, berpakaian, masak-memasak, dan segala sesuatu yang seharusnya diketahui bagi seorang wanita.

Karena itulah, Maria kecil tumbuh menjadi remaja yang anggun, baik, ramah, suka bergaul, dan dihormati oleh orang-orang sekitarnya.

Ternyata, perjuangan besar itu dimulai dari keluarga tercintanya...

Sosok wanita seperti Maria remaja ini pasti jadi calon istri idaman setiap laki-laki. Dan yang beruntung menikahinya adalah seorang yang berpendidikan, seorang guru yang baru menyelesaikan studinya di Pendidikan Guru di Ambon bernama Jozef Frederik Calusung Walanda. Sejak itulah, sesuai adat Minahasa, namanya menjadi Maria Walanda Maramis.

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa
(Foto: Dok. bode-talomewo.com)

Dari pernikahannya dengan Josef, Maria memiliki 4 orang anak yaitu 3 perempuan dan 1 laki-laki. Tapi anak laki-lakinya meninggal saat kecil. Mungkin ini menjadi “jalan takdir Tuhan” untuk Maria dalam memajukan kaum perempuan. Dimulai dari keluarga kecilnya terlebih dahulu. Apakah Maria mampu atau tidak.

Karena ingin anak perempuannya mendapat pendidikan yang setara dengan kaum laki-laki, Maria dan suaminya berupaya keras untuk menyekolahkan anak mereka setinggi-tingginya. Hingga akhirnya mereka berhasil menyekolahkan anak di ELS (Europe Lagers School) dan ke Batavia untuk melanjutkan ke sekolah guru. Satu fase perjuangan telah berhasil dilalui Maria sebagai pejuang keluarga.

“tidak ada pekerjaan yang sulit, yang ada adalah kita mau mengerjakannya atau tidak.”

Quote:"Ibu Maria sadar benar peran penting seorang ibu dalam rumah tangga. Keberhasilan sebuah rumah tangga sangat tergantung dari peran yang dimainkan oleh seorang ibu, di satu sisi bagaimana melayani dan membahagiakan suami, di sisi yang lain adalah bagaimana mendidik dan mengasuh anak-anak." Bapak Ivan R.B Kaunang, Dosen Ilmu Sejarah & Sejarawan Manado.

Pada jaman itu, banyak perempuan Minahasa yang tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk bekal merantau ke kota maupun yang mau berumah tangga. Makanya, Ibu Maria segera bergerak untuk mengejar cita-citanya mengangkat kaum perempuan dari ketertinggalan dan kebodohan.

Pada 8 Juli 1917, Ibu Maria membentuk PIKAT, Percintaan Ibu Kepada Anak Turun-Temurunnya, yang diizinkan oleh pemerintah Belanda. Bagi Ibu Maria tidak ada pekerjaan yang sulit, yang ada adalah kita mau mengerjakannya atau tidak. Dari organisasi yang dibuatnya inilah Ibu Maria yakin dan percaya bisa mengangkat kaum perempuan Minahasa.

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa
(Suasana belajar di huishoudschool. Sumber foto : PIKAT)

Tidak hanya membuat organisasi, Ibu Maria mencoba menyampaikan pandangan, visi misinya, serta ilmu yang dia miliki melalui surat kabar yang dimiliki oleh PIKAT. Beliau juga merealisasikan semuanya melalui Sekolah Rumah Tangga atau huishoudschool yang didirikannya.

Di sekolah itu, para kaum muda perempuan diajari berbagai macam keterampilan seperti menjahit, memasak, membuat prakarya, cara mengurus rumah tangga, dan lain-lain. Karena banyak diminati dan organisasi ini diduduki oleh orang-orang penting, PIKAT menjadi terkenal dan mendirikan cabangnya di seluruh nusantara.

Maria Walanda Maramis, Permata dari Minahasa

Berhasil mengangkat kaum wanita di bidang pendidikan, beliau juga ingin wanita memiliki peran di bidang politik. Dengan kerja keras dan keyakinannya, pada tahun 1921, beliau berhasil membuat wanita memiliki hak suara di parlemen dan lebih hebatnya lagi, berkat Ibu Maria, perempuan pun jadi bisa dipilih menjadi anggota di parlemen di Minahasa Raad.

Jika kita lihat, perjuangan dan pengorbanan beliau begitu besar untuk kaum perempuan. Tidak hanya menuangkan pemikiran melalui tulisan, namun juga bergerak secara langsung demi wanita-wanita Minahasa dan Indonesia. Tidak hanya untuk kepentingan sendiri namun untuk kepentingan kaumnya, kaum perempuan Indonesia.

Meskipun mengaku sangat kagum pada keberhasilan Kartini mengangkat martabat wanita di tanah Jawa, Maria Walanda Maramis layak dikatakan bukanlah sekedar Kartini dari Minahasa. Beliau pantas mendapat sebutan ibu bangsa dari Minahasa. Tak heran, setelah meninggal pada 22 April 1924, pada 20 Mei 1969, beliau mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia. Dan setiap tanggal 1 Desember, selalu digelar peringatan kelahiran Ibu Maria di Minahasa.

Quote:"Mengenal pahlawan, sekali lagi tidak hanya terbatas pada apa dan siapa, serta apa yang dilakukannya, dan yang diperjuangkannya sehingga disebut pahlawan, tetapi yang terutama adalah bagaimana kita yang hidup kekinian dapat mewarisi nilai-nilai perjuangan yang telah dicontohkannya bagi kelangsungan bangsa ini ke depan." Ivan R.B Kaunang, Dosen Ilmu Sejarah & Sejarawan Manado.

Bayangin Gan Sist, bagaimana susahnya zaman dulu menyebarkan pemikiran positif dari sebuah kota kecil ke seluruh Indonesia. Tetapi dengan kerja keras dan keyakinan, Ibu Maria Walanda Maramis berhasil mencapai titik tertinggi demi perempuan Indonesia. So, apa yang ingin kamu capai demi Indonesia?Setuju nggak sih Gan, kalau merdeka itu nggak cuma bebas dari kekejaman fisik dari para penjajah, tapi juga merdeka dari segalanya. Salah satunya diberi pendidikan yang layak. Nah, thread ini akan memerdekakan Agan dan Sista dari pemikiran kalau pahlawan nasional Indonesia tuh cuma itu-itu aja. Padahal masih banyak pahlawan kita yang keren-keren perjuangannya. Dan pastinya, tanpa mereka kita pun nggak bakal merdeka.

Share:

Karomah Sahabat-Sahabat Rasulullah Saw [Muslim Wajib Tahu]

*Karomah Abu Bakar Ash-Sidiq R.a Yang Mengetahui Kematiannya*

‘Aisyah bercerita, ‘Ayahku (Abu Bakar Ash-Shiddiq) memberiku 20 wasaq kurma (1 wasaq = 60 gantang) dari hasil kebunnya di hutan. Menjelang wafat, beliau berwasiat, `Demi Allah, wahai putriku, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai ketika aku kaya selain engkau, dan lebih aku muliakan ketika miskin selain engkau. Aku hanya bisa mewariskan 20 wasaq kurma, dan jika lebih, itu menjadi milikmu. Namun, pada hari ini, itu adalah harta warisan untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu, maka bagilah sesuai aturan Al-Qur’an.’
Lalu aku berkata, “Ayah, demi Allah, beberapa pun jumlah harta itu, aku akan memberikannya untuk Asma’, dan untuk siapa lagi ya?’”
Abu Bakar menjawab, `Untuk anak perempuan yang akan lahir.”‘ (Hadis shahih dari `Urwah bin Zubair)

Menurut Al Taj al-Subki, kisah di atas menjelaskan bahwa Abu Bakar Ash Shidiq R.a. memiliki dua karomah.
Pertama, mengetahui hari kematiannya ketika sakit, seperti diungkapkan dalam perkataannya, “Pada hari ini, itu adalah harta warisan.”

Kedua, mengetahui bahwa anaknya yang akan lahir adalah perempuan. Abu Bakar mengungkapkan rahasia tersebut untuk meminta kebaikan hari Aisyah agar memberikan apa yang telah diwariskan kepadanya kepada saudara-saudaranya, memberitahukan kepadanya tentang ketentuan-ketentuan ukuran yang tepat, memberitahukan bahwa harta tersebut adalah harta warisan dan bahwa ia memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki.

Indikasi yang menunjukkan bahwa Abu Bakar meminta kebaikan hati ‘Aisyah adalah ucapannya yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang ia cintai ketika ia kaya selain `Aisyah (puterinya). Adapun ucapannya yang menyatakan bahwa warisan itu untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu menunjukkan bahwa mereka bukan orang asing atau kerabat jauh.

Ketika menafsirkan surah Al-Kahfi, Fakhrurrazi sedikit mengungkapkan karamah para sahabat, di antaranya karamah Abu Bakar R.a. Ketika jenazah Abu Abu Bakar dibawa menuju pintu makam Nabi Saw, jenazahnya mengucapkan “Assalamu ‘alaika yaa Rasulullah, Ini aku Abu Bakar telah sampai di pintumu.”
Mendadak pintu makam Nabi terbuka dan terdengar suara tanpa rupa dari makam, “Masuklah wahai kekasihku ( Abu Bakar )”

*Karomah Abu Bakar R.a, Makanan Jadi Lebih Banyak*

Kisah ini diceritakan oleh ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shidiq R.a, bahwa ayahnya datang bersama tiga orang tamu hendak pergi makan malam dengan Nabi Muhammad Saw. Kemudian mereka datang setelah lewat malam.

Isteri Abu Bakar bertanya, “Apa yang bisa kau suguhkan untuk tamumu?”

Abu Bakar balik bertanya, “Apa yang kau miliki untuk menjamu makan malam mereka?”

Sang isteri menjawab, ‘Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang.”

Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya.”

Abu Bakar mempersilakan para tamunya makan. Salah seorang tamunya berujar, “Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu menjadi bertambah banyak. Kami merasa kenyang, tetapi makanan itu malah menjadi lebih banyak dari sebelumnya.”

Abu Bakar melihat makanan itu tetap seperti semula, bahkan jadi lebih banyak, lalu dia bertanya kepada istrinya, “Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?”

Sang isteri menjawab, “Mataku tidak salah melihat, makanan ini menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya.”

Abu Bakar menyantap makanan itu, lalu berkata, “Ini pasti ulah setan.”

Akhirnya Abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah Saw dan meletakkannya di hadapan beliau. Pada waktu itu, sedang ada pertemuan antara katun muslimin dan satu kaum. Mereka dibagi menjadi 12 kelompok, hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah keseluruhan hadirin. Beliau menyuruh mereka menikmati makanan itu, dan mereka semua menikmati makanan yang dibawa Abu Bakar. (HR Bukhari dan Muslim)

*Karomah Amirul Mukminin Umar bin Khattab R.a*

Umar bin Khattab adalah sahabat Rasul yang diberi karomah dapat berbicara dengan Tuhan. Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh pada umat terdahulu terdapat Muhaddatsun, yakni orang-orang yang berbicara dengan Tuhan. Jika salah seorang mereka ada pada umatku, maka tentu Umar bin al-Khattab”.

Allah Swt telah memberikan al-firasah kepada al-muhaddats (seorang Wali mitra dialog Allah Swt) karena hijab di antara Wali dengan Allah Swt sudah terangkat, Firasat seperti inilah yang dialami oleh Umar bin Khattab ketika beliau berdasar ilham berbicara dimimbar di madinah (sedang ceramah di masjid nabawi), memberikan perintah kepada Sariyah ibn Zunaym, panglima tentaranya (yang pada saat itu sedang berperang dan tentaranya kocar-kacir terkepung pasukan kafir di Irak/persia).

Umar bin Khattab berkata (berteriak) : “Wahai Sariyah ibn Zunaym, di atas bukit! di atas bukit!”.

Para tentara (muslimin) yang sedang berperang di Irak itu mendengar perintah Umar bin Khattab, padahal mereka berada di tempat yang sangat jauh dalam jarak perjalanan satu bulan dari madinah.

Mereka (pasukan muslimin) kemudian menuju ke atas bukit itu dan memperoleh kemenangan atas musuh, berkat pertolongan Allah Swt melalui perintah Umar bin Khattab R.a tersebut” (Apakah Wali itu ada?)

*Karomah Anas bin Malik R.a dan Umar bin Khottob R.a*

Sosok Anas bin Malik R.a sangatlah sederhana. Anas bin Malik sebagai seorang sahabat banyak sekali memiliki kekurangan. Anas adalah orang yang tidak memiliki keahlian, apalagi dalam hal berperang serta dikenal kurang pintar. Namun Umar bin Khattab malah memberikan Anas kepercayaan untuk selalu mendampinginya dalam melakukan perjalanan mensyiarkan syariat islam.

Dibalik kekurangannya itu, Anas ternyata seorang yang taat dalam beribadah. Selain itu kebaikan hati yang ia miliki menjadikan Umar bin Khattab semakin mempercayainya. Suatu hari Umar mengajak Anas untuk mendampinginya melakukan perjalanan menuju suatu daerah. “Anas bin Malik, maukah kau menemaniku melakukan perjalanan?” tanya Umar bin Khattab pada Anas yang sedang berdzikir.
Ternyata Anas diam tidak menjawab pertanyaan Umar bin Khattab. Sehingga Umar bin Khattab bergegas meninggalkan Anas karena mengira tidak mau menemaninya.

DIKEPUNG PERAMPOK
Jauh sudah perjalanan Umar bin Khattab dalam melakukan perjalanan, tapi tanpa disadari Umar bin Khattab, Anas sudah berada dibelakangnya. Anas yang sudah ketinggalan jauh tiba-tiba berada didekat Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab yang baru menyadari itu langsung tercengang karena kaget. “Sejak kapan kau berada dibelakangku?” tanya Umar bin Khattab pada Anas
“Aku mulai berangkat menyusulmu seusai sholat ashar dan aku melihat bayanganmu, akhirnya aku ada dibelakangmu “ jawab Anas dengan lugunya.

Betapa Umar bin Khattab makin terkejut, karena ia berangkat sudah sehari sebelumnya, tepatnya seusai sholat malam ia baru memulai perjalanan. Ia yakin perjalanan yang ia tempuh sudah sangat jauh. Tapi Anas yang baru saja berangkat langsung bisa menyusulnya. Walaupun Umar bin Khattab terkagum-kagum menyadari keajaiban itu, Umar bin Khattab hanya hanya diam dan tersenyum sendiri.

Pada perjalanan malam, sampailah mereka ditempat yang sangat sepi dan gelap. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Tidak lama beristirahat, tiba-tiba ada lima perampok. Anas yang tidak memiliki keahlian apapun sangat kebingungan, karena tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan Umar bin Khattab. Akhirnya Anas mengajak Umar bin Khattab untuk menaiki kuda dan mengendalikan kudanya sekencang-kencangnya. Namun, perampok itu juga menaiki kudanya dan lebih kencang dari mereka berdua. Perampok itu terus mengejar Umar bin Khattab dan Anas.

Sampai akhirnya perampok itu berhasil menyusul Anas dan Umar bin Khattab. Perampok itu mengeluarkan pisau untuk menodong. Anas yang kala itu berdo’a terus agar bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Umar bin Khattab, secara tiba-tiba kuda perampok itu langsung berhenti dan tidak mau digerakkan. Ternyata do’a Anas adalah, “Ya Allah, aku mohon hentikan kuda perampok itu”.

BERKUDA DI LAUT
Anas dan Umar bin Khattab terus menunggangi kuda dengan sangat kencang dan mereka tidak memperhatikan jalan yang mereka lewati, sampai akhirnya mereka tersesat disuatu tempat yang sudah tidak ada jalan dan didepannya hanya ada laut. Belum sempat Umar bin Khattab menuturkan satu kata pun pada Anas, Anas langsung bertanya, “Kenapa berhenti hai wahai Umar Ibn Khattab?”
“Bagaimana aku bisa menjalankan kuda ini, jika jalan yang harus kita lewati adalah laut” jawab Umar bin Khattab
“Insya Allah kita bisa melewati jalan ini, Bismillah” tutur Anas sembari menjalankan kudanya menyebarangi laut yang berada didepannya.

Umar bin Khattab pun langsung mengikuti Anas dan betapa terkejutnya Umar bin Khattab, karena ia dan Anas benar-benar bisa melewati lautan yang luas itu. Kuda terus berjalan seolah terbang di atas lautan. Setibanya didaratan, Umar bin Khattab meminta Anas untuk beristirahat.
“Baiklah Umar, kita istirahat disini, aku juga sangat lelah” jawab Anas

Sewaktu Anas pergi untuk mencari buah-buahan, Umar bin Khattab terkejut setelah menyentuh kaki kudanya yang tetap kering meski melewati lautan, “Sungguh keajaiban” tutur Umar bin Khattab dalam hati. (Kisah Hikmah, 2011)
Anas dan Umar bin Khattab terus menunggangi kuda dengan sangat kencang dan mereka tidak memperhatikan jalan yang mereka lewati, sampai akhirnya mereka tersesat disuatu tempat yang sudah tidak ada jalan dan didepannya hanya ada laut. Belum sempat Umar bin Khattab menuturkan satu kata pun pada Anas, Anas langsung bertanya, “Kenapa berhenti hai wahai Umar Ibn Khattab?”
“Bagaimana aku bisa menjalankan kuda ini, jika jalan yang harus kita lewati adalah laut” jawab Umar bin Khattab
“Insya Allah kita bisa melewati jalan ini, Bismillah” tutur Anas sembari menjalankan kudanya menyebarangi laut yang berada didepannya.

Umar bin Khattab pun langsung mengikuti Anas dan betapa terkejutnya Umar bin Khattab, karena ia dan Anas benar-benar bisa melewati lautan yang luas itu. Kuda terus berjalan seolah terbang di atas lautan. Setibanya didaratan, Umar bin Khattab meminta Anas untuk beristirahat.
“Baiklah Umar, kita istirahat disini, aku juga sangat lelah” jawab Anas

Sewaktu Anas pergi untuk mencari buah-buahan, Umar bin Khattab terkejut setelah menyentuh kaki kudanya yang tetap kering meski melewati lautan, “Sungguh keajaiban” tutur Umar bin Khattab dalam hati. (Kisah Hikmah, 2011)

*Kisah Karomah Utsman bin ‘Affan R.a*

Dalam kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertamu kepada Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya.

Utsman berkata kepada laki-laki itu, “Aku melihat ada bekas zinah di matamu.”

Laki-laki itu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan setelah Rasulullah Saw wafat?”

Utsman menjawab, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.”

Utsman bin Affan R.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.Selanjutnya Taj al-Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih.

Maqam orang-orang seperti itu berbeda-beda. Ada yang mengetahui bahwa yang dilihatnya itu kotor tetapi ia tidak mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi karena mengetahui sebab kotornya, seperti Utsman R .a. Ketika ada seorang laki-laki datang kepadanya, `Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu kotor dan mengetahui sebabnya yakni karena menghayalkan seorang perempuan.

Ibnu Umar bin Khattab R.a menceritakan bahwa Jahjah al- Ghifari mendekati Utsman bin Affan R.a. yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah Swt menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan)

Kisah Karomah Ali bin Abi Thalib R.a : Menyembuhkan Orang Lumpuh

Kisah Ali bin Abi Tholib R.a ini terdapat dalam kitab Al-Tabaqat, Taj al-Subki meriwayatkan bahwa pada suatu malam, Ali bin Abi Tholib R.a dan kedua anaknya, Hasan R.a dan Husein R.a mendengar seseorang bersyair :

“Hai Dzat yang mengabulkan do’a orang yang terhimpit kedzaliman

Wahai Dzat yang menghilangkan penderitaan, bencana, dan sakit

Utusan-Mu tertidur di rumah Rasulullah sedang orang-orang kafir mengepungnya

Dan Engkau Yang Maha Hidup lagi Maha Tegak tidak pernah tidur

Dengan kemurahan-Mu, ampunilah dosa- dosaku

Wahai Dzat tempat berharap makhluk di Masjidil Haram

Kalau ampunan-Mu tidak bisa diharapkan oleh orang yang bersalah

Siapa yang akan meng-anugerahi nikmat kepada orang-orang yang durhaka.”

Ali bin Abi Thalib R.a lalu menyuruh orang mencari si pelantun syair itu. Pelantun syair itu datang menghadap Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Aku, yaa Amirul mukminin!”
Laki- laki itu menghadap sambil menyeret sebelah kanan tubuhnya, lalu berhenti di hadapan Ali bin Abi Thalib R.a.

Ali bin Abi Thalib R.a bertanya, “Aku telah mendengar syairmu, apa yang menimpamu?”

Laki-laki itu menjawab, “Dulu aku sibuk memainkan alat musik dan melakukan kemaksiatan, padahal ayahku sudah menasihatiku bahwa Allah memiliki kekuasaan dan siksaan yang pasti akan menimpa orang-orang dzalim. Karena ayah terus-menerus menasihati, aku memukulnya. Karenanya, ayahku bersumpah akan mendo’akan keburukan untukku, lalu ia pergi ke Mekkah untuk memohon pertolongan Allah. Ia berdo’a, belum selesai ia berdo’a, tubuh sebelah kananku tiba-tiba lumpuh. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan, maka aku meminta belas kasihan dan ridha ayahku sampal la berjanji akan mendo’akan kebaikan untukku jika Ali mau berdo’a untukku. Aku mengendarai untanya, unta betina itu melaju sangat kencang sampai terlempar di antara dua batu besar, lalu mati di sana.”

Ali bin Abi Tholib R.a lalu berkata, “Allah akan meridhaimu, kalau ayahmu meridhaimu.”
Laki-laki itu menjawab, “Demi Allah, demikianlah yang terjadi.”
Kemudian Ali berdiri, shalat beberapa rakaat, dan berdo’a kepada Allah dengan pelan, kemudian berkata, “Hai orang yang diberkahi, bangkitlah!”
Laki-laki itu berdiri, berjalan, dan kembali sehat seperti sedia kala.
”Jika engkau tidak bersumpah bahwa ayahmu akan meridhaimu, maka aku tidak akan mendo’akan kebaikan untukmu.” `Kata Ali bin Abi Tholib
Share:

Sugi, 17 Tahun Mengajar dengan Kondisi Lumpuh

BANYUMAS, Indonesia — Separuh badan Sugiarto (38 tahun), warga Desa Karangbawang, Banyumas, Jawa Tengah, boleh saja mati rasa, namun semangatnya untuk mengajar tak pernah lumpuh.
Sugi, 17 Tahun Mengajar dengan Kondisi Lumpuh
Dua puluhan bocah berbusana Muslim mengucapkan salam saat memasuki kamar Pak Ustadz Sugiarto. Masing-masing bergantian menyalaminya, lalu menempatkan diri mereka di sisi ranjang.

Keterbatasan ruang membuat para bocah itu harus duduk berhimpitan. Seketika kamar sempit itu berubah menjadi ruang kelas.

Sugi, begitu ia biasa dipanggil, hanya bisa melirikkan bola mata untuk menatap murid-muridnya. Kepalanya susah digerakkan. Separuh badannya ke bawah lumpuh total.

Beruntung lidahnya masih normal. Tangannya masih dapat mengangkat kitab Al-Qur’an meski harus disandarkan di dada. Sugi memimpin doa untuk mengawali pembelajaran yang diikuti murid-muridnya.

Pembelajaran pun dimulai. Ia menyimak santrinya membaca Al-Qur’an secara bergantian. Jika ada bacaan yang salah, tugasnya adalah membetulkannya.

Sugi juga telaten menuntun siswa belia yang baru belajar mengeja lafal Arab. Aktivitas pembelajaran itu dimulai pukul 15:00 WIB hingga 18:00 WIB setiap harinya.

Tujuh belas tahun sudah, Sugi istiqamah mengajar pendidikan agama untuk anak-anak di desanya dengan cara berbaring karena lumpuh. Untuk sekadar duduk pun ia tak mampu.

Sugi menyadari sebagian besar fisiknya telah mati rasa. Namun ia bersyukur, masih ada organ yang berfungsi dan bisa ia pakai untuk memberi manfaat bagi orang lain.

"Tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik, dalam kondisi apapun. Jika saya tidak berbuat apa-apa, hidup saya hanya sia-sia menunggu kematian," katanya penuh harap.

Bagi Sugi, pendidikan agama penting bagi anak-anak untuk menanamkan akhlak serta menjauhkan mereka dari pergaulan bebas.

Ia pun tidak memungut sepeserpun kepada orangtua siswa untuk pendidikan anak mereka. Sugi ikhlas tak dibayar meski hidupnya penuh dengan kekurangan.

Mengajar dengan kondisi demikian tentu bukan hal mudah. Sugi mengajar sambil sesekali meringis menahan sakit.

Sugi telah pasrah dengan kondisi kesehatannya. Yang ia harapkan, ia bisa tetap istiqamah mengajar hingga akhir hayatnya.

"Harapan saya cuma istiqamah. Saya akan terus mengajar hingga Allah memanggil saya," ucapnya.

Sugi, 17 Tahun Mengajar dengan Kondisi Lumpuh
Berawal dari kecelakaan

Sugiarto mengajar sambil berbaring karena tubuhnya tak kuasa gerak. Foto oleh Irma Muflikah/Rappler

Sugiarto mulai mengajar sejak sebelum lumpuh, sekitar 20 tahun silam. Ia adalah jebolan sebuah Pondok Pesantren ternama di Banyumas.

Suatu ketika, peristiwa naas menimpanya. Ia tertabrak bus antarprovinsi di jalan raya saat selesai mengajar mengaji siswanya.

Sugi sempat dirawat 40 hari di sejumlah rumah sakit untuk kesembuhan lukanya. Selama dirawat di rumah sakit, pendidikan Al-Qur’an di rumahnya sementara terhenti. Anak-anak didiknya menanti cemas di rumah sambil menunggu sang ustadz pulang dan kembali mengajar.

Setelah 40 hari dirawat dan tak kunjung membaik, Sugi memutuskan pulang. Apalagi, dokter telah memvonisnya lumpuh total.

Sekembalinya dari rumah sakit, Sugi kembali membuka kelas. Namun keadaannya kini berubah. Ia terpaksa memindahkan kelas pembelajaran di dalam kamar lantaran tubuhnya tak bisa bergerak. Ia harus mengajar sambil berbaring.

"Selama dirawat di rumah sakit saya kepikiran murid-murid saya, mereka tidak ada yang mengajar, akhirnya saya pulang," akunya.

Tasem, ibunda Sugiarto, adalah perempuan yang setia mendampingi dan merawat anaknya. Tiga hari sekali, ia mengganti perban untuk menutupi luka pada kaki Sugi yang membusuk.

Air mata Tasem mengalir saat menceritakan keadaannya anaknya yang memprihatinkan. Sejak menderita lumpuh 17 tahun lalu, kondisi kesehatan Sugi terus menurun. Tubuhnya kurus kerontang dan sering sakit-sakitan. Kakinya yang telah mati rasa justru timbul luka yang membau.

Selain merawat luka, beberapa hari sekali, Sugi dibantu warga sekitar mengangkat tubuh Sugi yang bergeser dari posisinya semula.

Tasem berkeinginan untuk memeriksakan anaknya kembali ke rumah sakit. Selalu ada asa untuk kesembuhan anaknya. Namun ketiadaan biaya memaksanya pasrah. Ia juga tidak memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah meski tergolong warga miskin.

"Inginnya ganti perban setiap hari. Tapi karena kurang biaya, saya beli perban di apotek dan menggantinya tiga hari sekali," kata Tasem.

Di sisi lain, Tasem terenyuh melihat keteguhan hati putranya yang istiqamah mengajar meski dalam kondisi lumpuh.

Sebagaimana harapan putranya yang ingin istiqamah mengajar, ia pun berharap diberi kekuatan agar bisa istiqamah merawat anaknya, hingga akhir hayat.

Jolastri, wali siswa Fahru Nurudin (9 tahun), punya alasan tersendiri untuk memercayakan pendidikan putranya kepada Sugiarto.

Sugi diakuinya sebagai guru yang alim dan menguasai pengetahuan agama. Lebih dari itu, ia adalah seorang yang ikhlas mendedikasikan waktunya untuk mengajar tanpa memungut bayaran.

Jolastri, ibu Fahru, juga membawakan makanan untuk sang guru. Berkat jasa sang ustad, kata Jolastri, anaknya yang telah tiga tahun berguru pada Sugi kini sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Karakter Fahru juga terjaga karena sering mendapat nasihat positif dari sang guru.

"Kami sebenarnya kasihan melihat kondisi ustad. Dia ikhlas mengajar meski kondisinya sakit," kata Jolastri.—Rappler.com

Buat kita yang masih sehat, harus banyak-banyak bersyukur nih gan. Semoga ada yang tergerak membantu biaya kesehatan untuk Ustadz Sugi supaya kondisinya bisa lebih baik. Aminn

Share:

Terpecahkan! Ini Penjelasan Bagaimana Otak Mampu Mengenali Wajah

Tidak ada orang yang bisa mengenali orang lain dengan terburu-buru walaupun wajah yang dilihat familiar. Para ilmuwan sendiri sulit sekali untuk menjelaskan bagaimana otak manusia mengidentifikasi wajah-wajah yang familiar.

Dilansir dari Medicalxpress.com, kini para peneliti di The Rockefeller University telah mengungkap misteri bagaimana otak mengenali wajah-wajah yang familiar. Winrich Freiwald, kepala Laboratorium Neural Systems dan Sofia Landi, seorang mahasiswa pascasarjana menemukan 2 wilayah otak yang sebelumnya tidak diketahui dapat mengidentifikasi wajah.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa otak mengandung area yang merespon secara selektif terhadap wajah dibandingkan dengan jenis objek lainnya. Mereka juga tahu bahwa manusia memproses wajah yang familiar dan asing dengan cara yang berbeda. Namun, usaha untuk meramalkan dasar saraf untuk membedakan antara persepsi wajah yang asing dan familiar pada manusia terbukti tidak meyakinkan.

Freiwal dan Landi beralih pada kera, untuk mengidentifikasikan bagaimana mereka bisa mengenali wajah, mereka menggunakan kera sebagai bahan penelitian karena lebih mudah dipelajari dibanding dengan manusia dan karena kera memiliki banyak kesamaan dengan manusia.

Dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional, Landi dan Freiwald mengukur aktivitas otak kera saat mereka merespon gambar wajah lain. Wajah-wajah tersebut dibagi dalam 3 kategori, orang yang akrab dan pernah tinggal bersama dalam waktu yang lama dengan kera, orang yang akrab dengan mereka karena sering melihat orang tersebut ratusan kali, dan wajah yang benar-benar asing.

Para peneliti mengharapkan jaringan pengolah wajah kera bereaksi sama dengan dua jenis wajah pertama. Namun sebaliknya, keseluruhan sistem menunjukkan aktivitas lebih dalam untuk menanggapi wajah kenalan lama. Wajah yang hanya familiar secara visual menyebabkan berkurangnya aktivitas di beberapa daerah.
Share:

TAUBAT NASUHA YUUK.. ( PEMBUKA SEGALA YANG TERKUNCI )

Tujuan : Pengakuan dosa kita kepada Allah
Manfaat : Pembuka pintu rejeki, pekerjaan, jodoh, dapet keturunan, usaha, ketenangan batin, jauh dari bala, semuanya say....yg kekunci kebuka!!!...
Selain pengakuan dosa kepada Allah, taubat ini juga me"RESET" keadaan kita kembali ke kondisi
fitrahnya manusia kembali ke NOL..layaknya seorang bayi yg baru lahir...coba bayangin ...bayi
ketika nangis entah lapar atau haus...pasti di kasih susu atau makanan dengan segera...begitu juga dgn diri kita sehabis melakukan taubat nasuha insya Allah doa kita cepet di kabulkan karena "hijab" yg menghalangi doa kita sudah diangkat....tetapi ingat..Allah juga akan selalu menguji dan memberikan yg terbaik kepada hamba-Nya...jadi tetap berbaik sangka saja kepada Allah...
script async="" src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"> Kita cuma di suruh ngaku aja kok....ini loh aku ya Allah yg banyak dosa...
dan pengakuanya cuma kita sama Allah aja...bukan didepan umum!!!
gimana ga sayang allah sama kita !!...kita punya aib di tutupi-Nya..cuma di tampakan pada kehidupan kita yg selalu nge-blangsak!..tapi emang dasar manusia pendosa itu hatinya di kunci...ya sudah makin jauh dia dari hidayah-Nya...udah di dunia sengsara ditambah susah, apalagi di akhirat?...
melaui trit ini ane cuma mengajak ..dan menghimbau...
ane cuma takut ketika di tanya sama Allah di akhirat : " ente punya ilmu komputer.( sering online ) .apa yg sudah ente berikan ( amalin ) untuk agama dan orang lain? "
nah loe....!!..sampaikan ilmu itu walau 1 ayat saja..
manusia = selalu lupa..dan selalu berbuat dosa...
ada dosa yang kecil, sedang hingga besar...dan syirik ( dosa yang tiada ampun )....dalam kehidupan kita di dunia ini, selalu di jejali segala bentuk masalah.
ada yang di uji dengan nikmat enak dan ada yang di uji dengan nikmat tidak enak seperti : sakit parah hampir semua penyakit bersumber dari hati,seperti : jantung, stroke, asem urat, diabetes, kanker dll....miskin..apess terus..sial terus ..jomlo terus, mau nikah gagal terus, ga dapet kerja..usaha bangkrut terus...kena santet..rejeki seret..bisnis gagal..kebakaran, tabrakan, ditipu orang..dirampok, di khianati..dll
tapi ingat bro n sis...kita lihat dulu apakah itu ujian atau azab dari Allah swt ?....byk yang terjebak untuk point disini...mereka hanya tau ahh itukan ujian...padahal kalo kita bercermin pada diri sendiri...selalu berbuat maksiat...
ada 10 daftar dosa besar yang membuat terkunci hingga Allah murka kepada kita...
diantara 10 dosa besar itu :
1. Syirik ( yang pernah kedukun )...ngaku aja say
2. Meninggalkan Shalat....katanya gak gaul kalo sholat...cape2xin...coba di
pikir2...udah lengkap belum yg 5 waktu?
3. Durhaka - kepada 2 ortu kita..--> harus minta maaf langsung!!!...
4. Zina - yg sering neh ...zina mata ( suka liat gambar,video porno atau semi porno , nah yg buat pacaran ati2x...berzinah seperti layaknya suami istri ( dianggap hal biasa ) ciuman ( kissing ), petting oral...dll dan suka main psk or selingkuh!
5. Rizqy Haram --- asal caplok aja dan masuk perut...
6. Mabok / Judi -- tau sendiri dah gan...
7. Memutus Silaturrahim -- ga mau bertemen or saudara.
8. Bohong (nuduh zina, saksi palsu, bohong) - ayo ngaku?
9. Kikir / pelit ---jarang beramal khususnya abis gajian, atau dapet proyek..jgn lgsung dimakan gan...ada hak org lain di dalamnya...sumbangin dulu 2,5% baru digunakan.
10. Ghibah / Gosip -- ini yang susah ngilangin buat kaum hawa...maaf ya...
akibat dari salah satu dosa besar itu...kita ngeblangsak....itu baru di dunia...belum di
akhirat!!!....sebenarnya Allah itu sayang sama kita!khususnya didunia ini bagi yg masih hidup ya ..cuma emang dasar hati kita itu sudah mati, ga bisa baca keadaan diri kita kenapa ya
saya selalu begini atau begitu...itu sebenarnya teguran dari allah seperti sakit atau musibah lainn, coba kalau Allah kasih teguran yg lebih hebat lagi setiap manusia punya dosa timbul bisul besar di
tubuhnya..bisa di bayangkan seperti apa bentuk manusia yg punya dosa besar?... tapi manusia
kebanyakan sombong, dia malah cari jalan lain atau solusi lain..kata Allah ya silahkan saja! la wong langit dan bumi ini milik saya! mau kemana kalian ?..karena akar masalahnya itu ada di diri kita sendiri....ada hukum sebab akibatnya ( sunatullah itu berlaku )....nauzubillah min zalik!!!..
gimana cara ngebuka kuncian nya??...
Dengan taubat !!!...
simple ....sebenernya hidup itu simple...kita cuma di suruh ibadah aja sama allah...ya ibadah aja ..kek sholat...beramal...dll...biar allah yg cukupi kebutuhan kita2x...
“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat: 56 )
masih ga percaya?...buktiin aja...jgn setengah2x ya!!!....harus 100%...
caranya taubat :
1. mandi taubat = tujuannya pensucian jasmani dan ruhani..utk memulai kehidupan baru yg bersih...
niatnnya : aku niat mandi taubat karena Allah ta'ala...( dalam hati - karena di kamar mandi ).
lalu guyur dan basahi rambut, dan badan seperti biasa..dan bersihkan badan....
2. ambil wudhu
3. Sholat Sunah Taubat.
Niat Shalat Taubat :
Niat shalat taubat adalah sebagai berikut:
Artinya: Saya niat shalat sunnah taubat dua rokaat karena Allah. ( usholi sunatan taubati rok' ataini lillahi ta'ala...)
Bacaan Shalat Taubat
Rakaat pertama: Membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Kafirun
Rakaat kedua: membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas.
atau yang mudah di baca dari ayat alquran.
Doa Dan Bacaan Setelah Shalat Taubat
Setelah salam, lalu membaca istighfar 100 kali
( astagfirullah al azim ) - inget dosa yg kita
perbuat ..hayati ....lalu min jami'il ma'ashi waz zunub taubatan nasuha wala haula walaquwata illa billah hil aliyil azim.
boleh di tambah puji -pujian tasbih ( subhanallah 33x ) tahmid ( alhamdulillah 33x ) dan takbir ( Allahu akbar 33x ), lalu laa ilaha ilallah 33x atau 100x.
baca sholawat nabi " allahuma sholi ala sayidina muhammad wa ala ali sayidina muhammad 11 x (
terserah aja )..
kemudian silahkan berdoa pakai bahasa indonesia juga ga apa2x..
silahkan berdoa mohon ampun dan menyesali perbuatan dosa dari hati yg paling dalam...setelah itu
bebas gan...minta apa aja. berjanji tidak akan mengulangi lagi...meski namanya manusia sering
lupa...tapi ga usah takut ..yg penting ada niat taubat dan memperbaiki diri kearah
positif...lambat laun akan sempurna...butuh proses semua itu..
4. jgn lupa jaga sholat 5 waktunya ..dan baca istigfar sehabis sholat kalau mampu 100x atau
semampunya...dan byk2x beramal...kecil ga apa2x yang penting istiqomah ..bukan besar atau kecil nilainya.
Share:

Featured Post

Menguak Kisah B.M. Diah, Sang Pahlawan Penyebar Berita Kemerdekaan Indonesia

Gelar pejuang memang identik dengan mereka yang berada di garis depan peperangan. Namun, jika menyebut nama Burhanuddin Mohammad Diah, soso...

Followers

Labels

Menguak Kisah B.M. Diah, Sang Pahlawan Penyebar Berita Kemerdekaan Indonesia

Gelar pejuang memang identik dengan mereka yang berada di garis depan peperangan. Namun, jika menyebut nama Burhanuddin Mohammad Diah, sosok tersebut juga pantas mendapat gelar pahlawan. Mungkin namanya tak sepopuler Diponegoro atau Soedirman, namun sejatinya hingga akhir hayatnya, B.M. Diah terus berjuang dengan pemikiran-pemikirannya yang bermanfaat untuk Negara.
Perjuangan tersebut mungkin yang paling jarang disadari. Namun, percaya atau tidak, tokoh B.M. Diah memiliki peran yang begitu besar dalam penyebaran kemerdekaan Indonesia hingga ke pelosok negeri. Seperti apa sebenarnya figur yang telah menyampaikan pesan kemerdekaan ini? Berikut ini adalah sekilas tentang sosok pahlawan yang harusnya dikenal masyarakat Indonesia.

Cinta Indonesia, B.M. Diah tidak mau menjadi murid pengajar Belanda

B.M. Diah dulunya semepat bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School. Namun, ia merasa tidak senang ketika harus menempa pendidikan dengan pengajar orang Belanda. Ia pun memutuskan untuk pindah ke Taman Siswa di Medan. Hingga berusia 17 tahun, B.M. Diah pun pergi ke Jakarta untuk belajar di Ksatrian Institut.
BM. Diah [image source]
Di sekolah tersebut pula ia belajar jurnalistik dan menjadi wartawan yang handal. Meski saat itu ia tidak memiliki biaya, namun tekatnya untuk belajar membuat gurunya, Dr. EE Douwes Dekker merasa iba dan akhirnya mengizinkannya tetap belajar, sekaligus menjadi seorang sekretaris di sekolah.

Pernah bekerja di Radio Hosokyoku di bawah kendali Jepang

Pada masa penjajahan Jepang, Diah pernah bekerja sebagai penyiar siaran berbahasa Inggris di Radio Hosokyoku. Selain itu, di saat yang bersamaan ia juga bekerja di Asia Raja. Namun, hal itu diketahui pihak Jepang. Kesal dengan kenyataan itu, Jepang pun menjebloskan Diah ke penjara selama empat hari.
B.M. Diah [image source]
Hikmah yang bisa dipetik Diah adalah, ia bertemu dengan Herawati selama bekerja dengan Jepang. Seorang penyair lulusan jurnalistik dan Sosiologi di Amerika Serikat yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pada tanggal 18 Agustus 1942, mereka pun akhirnya menikah. Resepsi pernikahan tersebut juga dihadiri oleh presiden Soekarno.

Proses dan Penyebarluasan Proklamasi Kemerdekaan

Penyebaran berita proklamasi tersebut berawal dari pesan Drs. Moh. Hatta kepada B.M. Diah, yang saat itu turut hadir dalam perumusan teks proklamasi. Pada tanggal 16 Agustus 1945, teks proklamasi telah selesai dirumuskan. Para pekerja radio pun terus menyiarkan tentang berita kemerdekaan.
B.M. Diah turut terlibat dalam penyusunan teks proklamasi [image source]
Namun, Jepang berusaha untuk meralat berita itu, hingga akhirnya kantor berita tersebut disegel. Upaya Jepang ternyata tidak menyurutkan B.M. Diah dan rekan-rekannya untuk terus menyebarkan berita proklamasi dengan mencetak pamphlet, dan juga surat kabar seluas-luasnya, bahkan sampai ke pelosok Indonesia.

Menaklukkan Percetakan Jepang

Pada bulan September 1945, setelah diumumkannya Proklamasi Kemerdekaan, Jepang memang masih banyak di Indonesia. Pada bulan tersebut, B.M. Diah dan beberapa rekannya memutuskan untuk mengangkat senjata dan berusaha merebut percetakan “Djawa Shimbun” yang menerbitkan Harian Asia Raja.
BM. Diah bersama Rosihan Anwar [image source]
Meski awalnya sempat ketar-ketir, mengingat pasukan Jepang yang bersenjata, namun yang terjadi justru sebaliknya. Pihak Jepang yang menjaga percetakan tidak melakukan perlawanan, bahkan mereka menyerahkan percetakan pada B.M. Diah dan teman-temannya.

Penghargaan dan akhir hayatnya

Berkat jasanya, Diah pun menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto pada 10 Mei 1978. Ia juga meraih penghargaan berupa medali perjuangan angkatan 45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada 17 Agustus 1995.
sosok Herawati, istri B.M. Diah [image source]
Namun pada 10 Juni 1996, Diah mengembuskan napas terakhir akibat penyakit stroke. Menurut penuturan istrinya, hingga saat terkakhir, Diah masih terus bekerja. Herawati mengatakan jika suaminya adalah wartawan nasionalis sejati yang mementingkan Negara. Meski tak banyak mengangkat senjata dan berada di jalur depan pertempuran melawan penjajah, namun jasa-jasa yang diberikan B.M. Diah pada Negara memang tak main-main. Tanpa adanya perjuangan Dian dan rekan-rekannya, berita kemerdekaan mungkin tak akan diketahui masyarakat tempo dulu. Semoga semangat B.M. Diah dalam mencintai Negara dan berkarya menjadi warisan generasi muda masa kini.

Ivan Kats, CIA, Goenawan Mohamad & Kekerasan Budaya Pasca 1965

yakni bisa kita duga soal keterlibatan Amerika melalui CIA dalam pembentukan Kompas dan Tempo. CIA diwakili oleh Ivan Kats membangun konsep dan saling berkirim korespondesi dengan PK Ojong yang akan mendirikan kompas dan Gunawan Mohamad muda membangun media Tempo.
Media Kompas, Tempo Pintar Menyembunyikan Misi Ideologisnya
Tak bisa dipungkiri media besar adalah alat propaganda dan ideologis, "Media besar itu seperti Kompas, Tempo dan lainnya pintarnya mereka bisa  menyembunyikan misi ideologisnya, dan mereka hanya menampilkan aspek-aspek yang bersifat humanisnya, tetapi misi ideologisnya bisa mereka sembunyikan" imbuh Munarman.
Misi ideologis seperti apa?
Munarman menambahkan " misi ideologisnya adalah membangun sebuah tata peradaban, sistem dan tata nilai yang bertentangan dengan nilai Islam, yaitu Sepilis (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) atau yang mereka sebut dengan demokrasi sebetulnya."
Contohnya saja media Kompas, kita bisa lihat pada awal tahun 1960-an. Kita bisa cek dari buku 'Kekerasan Budaya Pasca 1965' karya Wijaya Herlambang.
Dalam buku yang ditulis yang aslinya adalah tesis Wijaya Herlambang yang diterbitkan oleh Marjin Kiri ini merupakan berhaluan kiri dan seorang dosen di Jakarta, bukan itu yang ingin kita bahas, melainkan ia berhasil menelanjangi keterlibatan CIA dalam pendirian Kompas dan Tempo yang kini bagai gurita media di Indonesia.
"Dalam buku itu datanya lengkap, membuka siapa itu Gunawan Mohamad dan PK Ojong. Mereka berdua berhubungan erat dengan Ivan Kats, seeorang Agen CIA yang masuk ke dalam CCF (Congres For Cultural Freedom) berpusat di Prancis untuk menggalang anti komunis dan menyebarkan ide SEPILIS. Dan termasuk pendirian Kompas dan Tempo atas dorongan dari Ivan Kats. Maka jika mereka sudah berhubungan dengan intelijen begitu maka bisa kita duga, sekali lagi bisa kita duga ada campur tangan CIA dalam pendirian kedua media itu (Kompas dan Tempo), begitu cara melacaknya." urainya rinci.
Demikian halnya dengan media Islam, harus menjadi propaganda Islam, bukan hobi semata menurut Munarman, "Ini benar-benar pertempuran ideologis, bukan sentimen kita seneng dengan Islam, karena Islam itu bukan hobi, bukan untuk disenangi, Islam itu untuk dijalankan (dalam kehidupan kita sehari-hari)"
Mudahnya ia merujuk pada buku berjudul 'Kekerasan Budaya Pasca 1965'.
Dalam situs Indoprogres, TULISAN ini merupakan catatan tentang politik kebudayaan liberal pasca 1965 dan peran yang dimainkan Goenawan Mohamad di dalamnya. Motivasi awalnya datang dari pembacaan atas penelitian Wijaya Herlambang dalam bukunya, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Dalam tulisan ini, saya akan (1) menguraikan data-data baru tentang tema terkait yang didapat dari buku Wijaya maupun dari penelusuran saya secara langsung ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, (2) menjelaskan bagaimana anatomi gagasan dari politik kebudayaan berbasis eksistensialisme Camus, (3) menunjukkan peran Goenawan Mohamad sebagai makelar kebudayaan dalam membentuk selera intelektual Indonesia, dan (4) memperlihatkan kaitannya dengan konsolidasi kapitalisme di Indonesia pasca 1965.
Liberalisme Borongan: Cicilan $50
Dalam bukunya, Wijaya menunjukkan keberadaan suatu lembaga filantropi bernama Congress for Cultural Freedom (CCF) hasil bentukan CIA pada tahun 1950 yang dimaksudkan sebagai covert action untuk ‘menciptakan dasar filosofis bagi para intelektual untuk mempromosikan kapitalisme Barat dan anti-komunisme.’[1] CCF ditempatkan di bawah kendali Office of Policy Coordination (OPC) yang diketuai oleh Frank Wisner, seorang pejabat CIA yang terlibat dalam perencaaan pemberontakan PRRI/Permesta 1957-1958.  Wijaya juga menunjukkan bahwa dari CCF itulah dibentuk yayasan Obor internasional yang diketuai Ivan Kats, seorang perwakilan CCF untuk Program Asia. Yayasan Obor internasional (Obor Incoporated) yang berkedudukan di New York inilah yang menjadi induk dari yayasan Obor Indonesia yang diketuai Mochtar Lubis.[2]  Melalui yayasan tersebut, ide-ide yang ‘secara filosofis’ mempromosikan kapitalisme Barat dan sikap anti-komunis disemai.
Dalam bukunya, Wijaya menunjukkan keberadaan surat-surat antara Goenawan Mohamad dan Ivan Kats sejak 1968-1973 yang katanya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.[3] Setelah saya memeriksanya dari PDS H.B. Jassin, ternyata saya temukan bahwa korespondensi yang terarsipkan di sana bahkan juga mencakup tahun-tahun yang lebih awal, yakni sejak 1965. Lagipula surat dari tahun 1965 itu merupakan sambungan pembicaraan sebelumnya[4], sehingga dapat dipastikan bahwa korespondensi itu terjadi hingga entah sebelumnya. Bahkan dalam sebuah surat (dalam kumpulan surat dari tahun 1965) berbentuk memo sepanjang tiga halaman dengan kop surat bertanda ‘Congrès pour la Liberté de la Culture’ (terjemahan Prancis dari ‘Congress for Cultural Freedom’), disebutkan persoalan tindak lanjut atas Manifes Kebudayaan. Dalam surat itu, Goenawan diminta untuk menulis pamflet yang bercerita tentang upaya-upaya PKI dalam menghancurkan identitas  dan pengalaman kultural dari mereka semua yang tidak berpihak padanya. Secara spesifik Kats menginstruksikan agar Goenawan menuliskannya dalam ‘middle level abstraction—not too highbrow’ dan dengan arahan agar isi tulisan itu memuat ‘lebih banyak cerita. Sedikit analisis.’ (Saya teringat arahan Erman Koto pada para penari dalam film The Act of Killing: ‘Ya. Lebih hot. Lebih hot.’).  Berikut saya tampilkan selengkapnya Surat A tersebut.
Surat Ivan Kats-Goenawan Mohamad 1965 h1
Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 1965, h. 1.
Tampak bagaimana Ivan Kats tampil serupa ‘manajer politik’ bagi Goenawan Mohamad. Dari situ juga bisa muncul dugaan bahwa korespondensi dan koordinasi ini sudah terjadi sejak sebelum 1963, tahun dideklarasikannya Manifes Kebudayaan, dan tidak hanya melibatkan Goenawan saja, tetapi para budayawan simpatisan PSI lainnya seperti Mochtar Lubis, Arief Budiman, Soedjatmoko, P.K. Ojong, dll. Artinya, boleh jadi Manifes tersebut dirancang dalam koordinasi dengan CCF dan, implikasinya juga, CIA.
Dugaan tentang keterkaitan antara Manifes Kebudayaan dengan CCF juga disinyalir oleh Wijaya dalam bukunya. Manifesto CCF berjudul ‘Manifesto of Intellectual Liberty’ memiliki kemiripan dengan Manifes. Para intelektual yang ikut dalam acara deklarasi CCF di Berlin tahun 1950 menyatakan: ‘Kebudayaan hanya dapat ada di dalam kebebasan, dan kebebasan itulah yang dapat membawa pada kemajuan kebudayaan’—ungkapan yang senafas dengan semangat Manifes Kebudayaan.[5] Istilah ‘humanisme universal’ sendiri, seperti diduga Joebaar Ajoeb, berasal dari A. Teeuw dan diadopsi secara luas oleh H.B. Jassin, sementara kedua kritikus sastra itu mulai berkolaborasi antara 1947-1951, yakni masa-masa ketika CCF sedang dibentuk.[6] Keikutsertaan Jassin dalam proyek kebudayaan CCF ini juga diperkuat oleh surat Jassin pada Goenawan pada tahun 1966, yang menyatakan bahwa Ivan Kats meminta Jassin menulis artikel sepanjang 3000-4000 kata tentang ‘perdjuangan kemerdekaan kebudajaan di lapangan sastra tahun 1957-1965.’[7]
Dalam sebuah surat pada tahun 1969 yang akan dilampirkan berikut, Kats juga mengajukan arahan menarik. Ia meminta agar dalam tulisannya, Goenawan menjadikan pemikiran Prancis sebagai contoh paradigma kebudayaan yang dapat diterapkan di Indonesia. Dalam amatan Kats, pemikiran Prancis bisa tumbuh demikian tersohor dalam dunia pemikiran kontemporer (pasca-Perang Dunia II) karena tradisi pemikiran itu menyeleksi tendensi-tendensi pikiran asing mana saja yang boleh dan tidak boleh masuk Prancis. Kats menulis: ‘Pemikiran asing umumnya dikesampingkan dari konstruksi ini, sampai tiba waktunya seorang penafsir-makelar (interpreter-middleman)Prancis memutuskan bahwa ada sesuatu dalam pemikiran asing itu yang berguna bagi Prancis.’[8] Salah satu aliran pemikiran yang dikesampingkan dari industri filsafat Prancis adalah, seperti disebut Kats sendiri, empirisisme logis Lingkaran Wina. Hal yang serupa juga diminta Kats pada Goenawan berkenaan dengan lalu-lintas wacana pemikiran di Indonesia: menyortir tendensi filsafat sesuai kepentingan ‘Indonesia’ (sebuah kata yang pada masa itu punya acuan yang sama dengan kata ‘Orde Baru’). Secara spesifik ia meminta Goenawan untuk menerjemahkan karya salah satu pemikir Barat, antara lain Albert Camus, dan memberikan kata pengantar yang berkesan tentangnya. Kats menjanjikan akan membayar $50 sebagai uang muka, $50 lagi di belakang, serta upah terjemahan. Selengkapnya surat itu adalah sebagai berikut.
Rupanya arahan untuk mempromosikan pemikiran Albert Camus ini cukup serius di mata Kats. Ia sampai mengulangnya beberapa kali dalam surat-surat selanjutnya.[9] Kats bahkan lebih spesifik lagi meminta Goenawan untuk memasukkan esai awal Camus, “L’Envers et l’endroit,” dalam tulisan Goenawan tentang pemikir itu.[10] Tulisan Goenawan itu baru muncul jauh kemudian, pada tahun 1988, sebagai pengantar berjudul ‘Camus dan Orang Indonesia’ pada buku terjemahan Camus, Krisis Kebebasan. Penerbitnya adalah Yayasan Obor Indonesia.
Pertanyaannya kemudian: Mengapa Albert Camus? Mengapa, lebih spesifik lagi, “L’Envers et l’endroit” yang diminta Kats? Mengapa pemikiran Prancis yang disarankan sebagai paradigma kebudayaan Indonesia? Bagaimana menjelaskan keterkaitannya dengan proyek politik kebudayaan liberal pasca 1965? Apa kaitannya dengan paham ‘humanisme universil’ dalam Manifes Kebudayaan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita jawab melalui rekonstruksi filsafat.
Anatomi Politik Absurditas
‘Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.’[11] Kalimat penutup buku Mite Sisifus karangan Albert Camus ini tentu memukau siapa saja yang baru pertama kali membacanya. Konon, karena membocorkan rahasia para dewa, Sisifus dikutuk untuk menjalankan hukuman yang paling mengerikan: mendorong batu besar ke puncak bukit untuk kemudian memandanginya menggelinding ke bawah dan ia mesti mendorongnya lagi ke puncak, terus mengulang ritus itu dalam keabadian. Ini adalah hukuman yang mengerikan persis karena hal itu sia-sia dan tanpa harapan.
Kisah Sisifus adalah cerita tentang nasib manusia. Hidup manusia adalah jalan panjang dan berulang menuju kematian. Tragis, memang. Namun sikap tragis adalah pertanda akan kesadaran. Orang yang tak sadar tak akan pula mengetahui ciri tragis eksistensinya. Sisifus bukan sekadar orang yang tertindas oleh nasib; lebih dari itu, ia sadar akan ketertindasannya. Lantas kemungkinan apakah yang dibukakan oleh kesadarannya itu? Tak lain adalah keberanian untuk mengatakan ‘Ya!’ pada absurditas eksistensinya, berkata ‘Ya!’ pada ketertindasannya. Pada akhirnya, ia seperti Oedipus yang mampu berkata: ‘Meskipun telah mengalami cobaan yang begitu banyak, usiaku yang lanjut dan kebesaran hatiku membuat aku menilai bahwa semuanya baik adanya.’[12] Maka inilah cara Camus mengakhiri mite Sisifus: ‘Perjuangan ke puncak gunung itu sendiri cukup untuk mengisi hati seorang manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.’[13]
Camus kerap jadi justifikasi para pendukung Manifes Kebudayaan untuk semacam politik yang ‘otentik’ secara eksistensial. Goenawan sendiri mengakui ini: ‘Banyak penulis “Manikebu” mengambil dongeng tentang Sisifus sebagaimana ditafsirkan oleh Albert Camus (Camus memang sering dikutip, semacam jadi mode, karena satu dan lain hal): manusia yang berikhtiar terus-menerus, sebuah maraton panjang tanpa garis finis yang jelas, sebuah perjalanan menuju anak tangga terakhir di kaki langit yang dicita-citakan—sebuah titik yang, bila dihampiri, ternyata menjauh lagi. Dengan pandangan antiutopian yang seperti itulah, naskah Manifes Kebudayaan merumuskan sikap kesenian dan pemikiran yang selalu merasa perlu mengambil jarak dari kekuasaan.’[14]
Dalam potongan “L’Envers et l’endroit” yang diterjemahkan dengan baik oleh Muhammad al-Fayyadl, dinyatakan oleh Camus: ‘Aku berdiri setengah berjarak dengan kemelaratan dan matahari. Kemelaratan mencegahku untuk percaya bahwa semuanya baik di bawah matahari dan di dalam sejarah; matahari mengajariku bahwa sejarah bukan segalanya.’[15] Boleh jadi kutipan semacam inilah yang disukai Ivan Kats dari CCF, sehingga memberikan arahan pada Goenawan Mohamad untuk menulis tentangnya. Judul L’Envers et l’endroit kerap diterjemahkan sebagai Betwixt and Between yang menggambarkan kondisi seseorang yang berada di tengah-tengah, tidak ini ataupun itu, tidak panas dan tidak dingin—ia menggambarkan sosok yang ‘setengah berjarak’ dari segala sesuatu, sosok medioker yang menjustifikasi dirinya dengan mengemasnya lewat label ‘otentik.’ Dalam kosakata kultural Indonesia saat ini, situasi ini terpotret dengan cemerlang dalam posisi ‘kelas menengah ngehe:’ menginginkan perubahan sosial tetapi sinis bila ada demo buruh, mengangankan kesetaraan tetapi jijik pada kolektivitas, mendambakan kebebasan tetapi lupa pada syarat adanya kebebasan itu sendiri, yakni pemilikan bersama atas sarana produksi kekayaan. Orang-orang yang punya hati baik tetapi lupa pada prasyarat kausal dari harapan-harapannya inilah yang menjadi sasaran empuk Kats. Diam-diam mereka digiring menjadi Sisifus. Dan dengan bangga dan puitis mereka mengikutinya. Sungguh kasihan: mereka kira mereka otentik. Saya tak bisa bayangkan betapa marahnya mereka bila mendapati bahwa mereka telah digiring jadi ‘Sisifus upahan’ yang dibanderol dengan harga sepersekian dari cicilan $50. ‘Oh Kirilov, jangan lagi kau bicara soal kebebasan!’
Lantas apa jadinya bila Sisifus dijadikan paradigma subjek politik ‘otentik’ untuk membaca kehidupan rakyat Indonesia? Kita bayangkan seorang buruh kebun berkata: ‘Meskipun saya hanya diupah Rp. 500 per sepuluh kilo sawit yang berhasil saya panen, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Kita bayangkan seorang pembantu rumah tangga berkata: ‘Meskipun saya hanya diupah sepertiga dari UMP dan sesekali digebuki oleh majikan, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Kita bayangkan seorang liberal berkata: ‘Meskipun pasar bebas bukanlah alat yang sempurna untuk mengalokasikan sumber daya secara adil, saya menilai bahwa hal itu  baik adanya.’ Kita bayangkan seorang aktivis mahasiswa berkata: ‘Meskipun gerakan politik berbasis moral kerapkali buntu, saya menilai bahwa hal itu baik adanya.’ Kita bayangkan seorang ekonom berkata: ‘Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar ditopang konsumsi berbasis kredit, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Kita bayangkan seorang pelaku pelecehan seksual berkata: ‘Meskipun saya melecehkanmu secara seksual, saya menilai bahwa semuanya baik adanya.’ Singkatnya: ‘Kita harus membayangkan, somehow, Marsinah berbahagia.
Apabila hal-hal itu mulanya demikian sulit kita bayangkan, adalah karena sumbangsih Goenawan Mohamad lah sehingga pernyataan-pernyataan itu jadi dapat dibayangkan, akrab dan lumrah. Mengapa demikian?
Makelar Filsafat Prancis: Formasi Selera Intelektual
Saya teringat akan kisah Borges yang dituturkan ulang oleh Foucault dalam Tatanan Hal Ihwal. Diriwayatkan bahwa di negeri Tiongkok, kenyataan dibagi dan diklasifikasi berdasarkan derajat kedekatannya dengan kaisar. Upaya membangun taksonomi semacam itu jugalah yang dijalankan oleh Goenawan dalam tulisan-tulisannya: mana yang sungguh merupakan puisi dan mana yang hanya slogan; mana yang berpolitik secara otentik dan mana yang sekadar politik kekuasaan; mana filsafat yang baik dan mana filsafat yang rendahan, positivistik, dsb. Jangan lupa bahwa ini merupakan kelanjutan yang konsisten dari arahan Ivan Kats[16] tentang perlunya seorang ‘penafsir-makelar’ yang akan menyortir pemikiran-pemikiran yang baik bagi ‘Indonesia’—dalam lingkup tema ‘kebebasan’ yang ditawarkan Congress for Cultural Freedom dan direstui oleh seksi Office of Policy Coordination di bawah CIA.
Apa yang dibentuk oleh Goenawan Mohamad adalah apa yang saya sebut sebagai ‘selera intelektual.’ Ia hendak membentuk semacam ‘setingan default’ atau ‘setelan pabrik’ dari paradigma berpikir intelektual Indonesia. Hal ini dapat diuji dengan cara yang sederhana. Dalam beberapa kali diskusi dengan teman-teman yang kerap membaca dan menggemari tulisan Goenawan, saya amati bahwa perdebatan akan meruncing ke satu/dua proposisi pokok yang tidak bisa dijustifikasi oleh argumen rasional yang lebih mendasar lagi. Proposisi-proposisi semacam itu, antara lain ‘kebebasan berpikir’ atau ‘kemanusiaan,’ adalah ‘setelan pabrik’ si kawan yang tercipta dari internalisasi tulisan-tulisan Goenawan selama bertahun-tahun. Dalam situasi seperti itu, bahkan bila saya menanyakan lebih jauh, misalnya, ‘apa syarat-syarat material dari adanya sesuatu yang Bung sebut “kebebasan berpikir” dan “kemanusiaan” itu?’ maka kawan itu akan kebingungan, karena selama ini ia mengganggap proposisi tersebut sudah self-evident, sudah jelas dengan sendirinya dan tak mungkin dipertanyakan lagi. Pada detik itu, saya tahu bahwa saya tengah berhadapan dengan sejenis robot Forex.
Cara bekerja ‘selera intelektual,’ karenanya, menyerupai apa yang disebut Althusser sebagai ‘aparatus ideologis negara.’ Pembentukan selera semacam ini pada hakikatnya adalah internalisasi mekanisme sensor. Apa yang disensornya adalah proposisi filosofis tertentu yang didefinisikan sebagai ‘gangguan’ terhadap operating system kultural yang telah terinstal dalam kepala si subjek. Dalam hal inilah dapat dikatakan bahwa kesusasteraan merupakan sarana ‘rekayasa sosial’ (social engineering). Justru di sinilah pernyataan Goenawan yang seolah tampak otentik—bahwa dengan sastra Lekra, ‘jang ada tjuma 1 Revolusi, 1000 slogan dan 0 puisi’[17]—menemukan ekspresinya yang paling kontradiktif. Distingsi yang ia coba bangun antara slogan dan puisi segera runtuh manakala kita menyadari bahwa puisinya adalah juga sarana formasi selera intelektual yang berperan dalam internalisasi mekanisme sensor kultural. Puisi-puisi Goenawan, karenanya, adalah juga himpunan slogan. Bedanya hanyalah bila puisi penyair Lekra tak coba menyembunyikan diri dari kemiripannya dengan slogan politik, puisi Goenawan telah menyaru demikian rupa sehingga tampak seperti sepotong puisi ‘murni.’ Meminjam analogi dari dunia periklanan, puisi-puisi Goenawan adalah seperti iklan kondom. Inilah ilustrasi dari yang tempo hari saya sebut sebagai ‘politik gratisan yang berkedok kesubliman.’
Melalui surat Kats 20 November 1969, kita juga jadi tahu mengapa pada perkembangannya kemudian, Goenawan banyak mempromosikan filsafat Prancis kontemporer. Setelah eksistensialisme sebagai tren mulai mengendur, maka dikemaslah secara ulang dan dipasarkan ke Indonesia sebagai pascamodernisme. Apabila kita perhatikan, pascamodernisme yang dipromosikannya sejak akhir 80-an sebetulnya tak jauh berbeda dari eksistensialisme madesu yang dipasarkan di era 60-an. Filsafat yang ia tawarkan adalah selalu filsafat yang mengeluh dan mengelus dada. Filsafatnya adalah filsafat yang senduseneng duit, celetuk teman saya. Ia mencoba mengemas ulang gagasan tentang emansipasi sosial yang sebetulnya inheren dalam filsafat Prancis kontemporer, dengan cara dipreteli konteks Marxis-Leninisnya dan dijangkarkan pada kegalauan psikologis. Unsur-unsur psikologis inilah yang berperan sebagai komando yang memoderasi tuntutan emansipasi pada taraf yang dapat diterima secara normatif dan dapat dibrokerkan dengan negara dan para penyandang dana. Di tangan Goenawan, Zizek dan Badiou jadi tak punya taring dan perannya disubordinatkan pada pemikir-pemikir Prancis lain yang ia pikir lebih dapat diintegrasikan pada tradisi liberal: Derrida, Laclau, Lacan, dsb. Tak pelak lagi, ini adalah manifestasi dari politik kebudayaan pejabat kolonial yang dikerjakan seturut arahan Tuan Besar Gubernur Jendral CCF, Meneer Ivan Kats. ‘Hei Rinkes, jangan lagi kau bicara soal peradaban!’
Pada Suatu Pagi Ketika Komunisme Tak Ada Lagi
Apa konsekuensi semua ini bagi proses konsolidasi kapitalisme di Indonesia pasca 1965? Semua itu berjalan ‘step demi step,’ seperti telah dinubuatkan Anwar Congo. Saya sepakat dengan Wijaya yang menyatakan dalam penelitiannya bahwa Goenawan Mohamad turut berperan serta dalam penumpasan komunisme secara intelektual. Namun lebih jauh lagi, saya juga berpendapat bahwa Goenawan turut berpartisipasi dalam proses konsolidasi kapitalisme di Indonesia pasca 1965. Ia memang kerapkali memberikan ‘sentilan-sentilun kritis’ terhadap kapitalisme di berbagai tulisannya. Tetapi agaknya, sikap kritis semacam itu hanyalah langkah penyimpulan ad hoc yang tidak dideduksikan secara langsung dari dalam asumsi-asumsi dasar posisi pemikirannya. Buktinya adalah ketika pertanyaan tentang masalah alternatif sistem ekonomi ditawarkan secara eksplisit kepadanya, ia tanpa ragu memilih kapitalisme, sebagaimana nampak dalam laporan wawancaranya dengan Rizal Mallarangeng pada bulan Juni 1996 berikut ini:
‘Jadi masalah yang paling penting adalah yang berhubungan dengan peran birokrasi. Bagi Goenawan Mohamad, satu-satunya cara yang mungkin dilakukan untuk mengatasi atau memperkecil masalah tersebut adalah dengan melaksanakan kebijakan deregulasi. Dengan kata lain, dia menerima pandangan bahwa “jalan kapitalis” saat ini perlu, necessary, dan baik untuk Indonesia. Benar bahwa sebagai seorang humanis dia memiliki beberapa keberatan atas sistem kapitalisme secara umum. Kendati demikian, menurut pendapatnya, tak ada alternatif yang lebih baik. “Kalau Anda mau menyingkirkan kaum kapitalis,” katanya, “Anda harus siap berada di bawah dominasi kaum birokrat.”’[18]
Dan berada di bawah dominasi kaum birokrat, di bawah Partai, adalah mimpi buruknya sebagai seorang liberal. Ivan Kats telah memastikan agar mimpi buruk itu tak jadi milik Goenawan semata, tetapi juga semua yang membaca tulisan Goenawan. Dengan turut membangun dikotomi kultural yang absurd antara kapitalisme dan otoritarianisme, antara ‘atmosfer kebebasan’ dan komunisme yang mencekik, itulah Goenawan menyiapkan prakondisi epistemik bagi terkonsolidasinya kapitalisme di Indonesia pasca 1965. Ia membuat kapitalisme jadi wajar.
Setelah memahami konteks ini, kita jadi mengerti mengapa ia pada akhirnya turut melawan Orde Baru. Sebab Orde Baru adalah manifestasi kapitalisme-negara, suatu kapitalisme yang bercorak otoritarian, suatu kapitalisme yang tidak konsisten dengan postulat liberalnya sendiri. Maka perlawanan Goenawan terhadap Orde Baru, dalam arti itu, bukanlah perlawanan kaum Kiri terhadap kapitalisme. Itu adalah perlawanan seorang liberal tulen terhadap kapitalisme yang inkonsisten. Saya sepakat dengan pernyataan Wijaya bahwa kendati Komunias Utan Kayu yang dibangunnya merupakan salah satu simpul perlawanan atas Orba yang mengakomodasi suara para mantan tapol ’65 dan gerakan Kiri, ‘pendekatan Goenawan tersebut harus diletakkan dalam kerangka prinsip-prinsip liberalisme yang telah ia pertahankan sejak 1960an.’[19] Tujuannya ialah mengembalikan kapitalisme dan liberalisme dalam wujudnya yang sejati, yang non-otoritarian: suatu kapitalisme dan liberalisme yang kaffah, yang murni dan konsekuen. Pasar persaingan sempurna yang ditopang oleh eongan-eongan kedaifan, sejumput puisi dan segurat justifikasi bagi politik etis. [bersambung....]

[1] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Jakarta: Marjin Kiri, 2013), h. 65-66.
[2] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 95-96.
[3] Ibid (lih. catatan kaki no. 118).
[4] Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 16 Desember 1965.
[5] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 85.
[6] Lih. Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 84 (catatan kaki no. 77).
[7] Surat H.B. Jassin – Goenawan Mohamad, 28 Juni 1966.
[8] Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 20 November 1969.
[9] Lih. surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 24 Januari 1970, 5 April 1970, 21 Mei 1970, 20 Oktober 1970 & 22 Oktober 1970.
[10] Surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 22 Oktober 1970.
[11] Albert Camus, Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 159.
[12] Albert Camus, Mite Sisifus, h. 157.
[13] Albert Camus, Mite Sisifus, h. 159.
[14] Goenawan Mohamad, “Affair Manikebu, 1963-1964” dalam Eksotopi (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2002), h. 128-129.
[15] Muhammad al-Fayyadl, “Mite Camus” dalam Sorge Magazine, November 2013, h. 12.
[16] Lih. surat Ivan Kats – Goenawan Mohamad, 20 November 1969.
[17] Goenawan Mohamad, “Tjatatan Kebudajaan: Ketika Manifes Kebudajaan Dilarang,” dalam majalah Horison, Mei 1967, h. 131.
[18] Rizal Mallarangeng, Mendobrak Sentralisme Ekonomi: Indonesia 1986-1992 (Jakarta: KPG & Freedom Institute, 2004), h. 140.
[19] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, h. 308. Sumber

Ibu Siti Manggopoh, Singa Betina Dari Ranah Minang

Ibu Siti Manggopoh, Singa Betina Dari Ranah MinangAda yang sedikit terlupakan dari catatan sejarah Indonesia. Siti Manggopoh. Nama perempuan asal Minang ini memang tidak bergaung seperti RA Kartini yang dianggap sebagai tokoh pahlawan Indonesia. Padahal, jika ditelusuri lagi, Siti Manggopoh merupakan pahlawan perempuan dari Minangkabau yang mampu mempertahankan marwah bangsanya, adat, budaya dan agamanya. Bagaimana tidak, Siti Manggopoh tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting).

Ketika itu, perempuan-perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi sedang mengibarkan bendera perjuangan gender, dan pada saat itu Siti Manggopoh, perempuan pejuang dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatera Barat muncul sebagai perempuan dengan semangat perlawan terhadap penjajahan yang terjadi di negerinya.

Siti Mangopoh adalah pejuang wanita dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Dilahirkan bulan Mei 1880, Siti Manggopoh pada tahun 1908 melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting). Gerakan rakyat untuk menolak kebijakan belasting di Manggopoh disebut dengan Perang Belasting.Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau.Sebab, tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.

Peristiwa yang tidak bisa dilupakan Belanda adalah gerakan yang dilakukan Siti Manggopoh pada tanggal 16 Juni 1908. Belanda sangat kewalahan menghadapi tokoh perempuan Minangkabau ini sehingga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh.

Dengan siasat yang diatur sedemikian rupa oleh Siti, dia dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Sebagai perempuan Siti Manggopoh cukup mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain.

Perebutan benteng yang dilakukan Siti menyulut Perang Manggopoh. Akhirnya Siti bersama sang suami, Rasyid Bagindo Magek, berhasil ditangkap dan dipenjarakan tentara Belanda. Tapi, lantaran mempunyai bayi, Siti terbebas dari hukuman pembuangan.

“Ya. Saya sangat menyesal karena tidak semua tentara Belanda di benteng Manggopoh dibantai. Saya menyesal karena hanya 53 yang terbunuh. Saya menyesal karena ada dua orang yang lolos dan mengadu kepada kalian sehingga Nagari kami diporak-poranda!”

Itulah yang diucapkan Siti Manggopoh ketika diinterogasi tentara Belanda, apakah dia menyesali perbuatannya menyerang markas pasukan Belanda di Manggopoh sehingga kemudian dicari-cari, ditahan dan diancam dengan hukuman gantung. Siti Manggopoh memimpin Perang Belasting di Nagari Manggopoh yang terletak di wilayah barat Kabupaten Agam, 100 KM dari Kota Padang dan 60 KM dari Bukittinggi (Siti Manggopoh dan Perang Belasting-Berdikarionline).

Quote:Original Posted By Legenda Rakyat

Bahwasanya sejatinya Ibu Siti adalah seorang pendekar silat Minang. Diceritakan Ibu Siti pernah menewaskan 20 org perwira belanda dengan hanya bersenjatakan karih (kerisnya org minang). Caranya.. Ketika para perwira belanda lagi rapat di sebuah ruangan, saat pasukannya menguasai benteng, Ibu Siti masuk dengan tenang ke ruangan rapat perwira belanda tersebut. Para perwira kaget campur bingung, Ibu siti menghunus kerisnya dan membunuh semuanya satu persatu. Legenda ini terkenal sekali ditanah kelahiran Ibu Siti


Belanda memasukkan Siti Manggopoh dan Suaminya Rasyid ke penjara secara terpisah. Siti Manggopoh dan Suaminya mendekam dipenjara selama 14 bulan di penjara di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman dan 12 bulan di Padang. Selanjutnya, Rasyid divonis hukuman dibuang ke Menado dan meninggal di Tondano.

Setelah Republik ini merdeka pada tahun 1945, Siti Manggopoh dan kisahnya sempat terlupakan. Baru pada tahun 1957, orang mulai mengingat akan perjuangan heroik Siti Manggopoh. Pemerintah Sumatera Tengah yang beribukota di Bukittinggi mengirim satu tim ke Lubuk Basung dan memberikan bantuan ala kadarnya. Siti Manggopoh merasa senang. Bantuan yang ia terima dijadikannya sebagai modal untuk membuka warung kecil di depan rumahnya.

Pada tahun 1960, Kepala Staf Angkatan Darat Jend. Nasution mendengar cerita heroik perjuangan Siti Manggopoh. Ia sangat terharu sekali atas keperkasaan Siti Manggopoh. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke Manggopoh untuk menemui Siti Manggopoh. Ia mengalungkan selendang kepada Siti Manggopoh sebagai lambang kegigihan dan keberaniannya melawan penjajahan. Masyarakat Manggopoh jadi haru ketika Jend. Nasution membopong dan mencium wajah tua keriput itu. Pada tahun 1964, Menteri Sosial mengeluarkan Sk tertanggal 17 November 1964 No. Pal. 1379/64/P.K yang isinya menyatakan bahwa Siti Manggopoh berhak menerima tunjangan atas jasa kepahlawanannya sebesar Rp 850,-. Tetapi kabarnya hanya sekali saja Siti Manggopoh menerima tunjangan tersebut.

Siti Manggopoh meninggal di usia 85 tahun, pada 20 Agustus 1965 di Kampung Gasan Gadang, Kabupaten Agam.

Gelar Pahlawan Nasional memang seharusnya (kembali) diberikan terhadap Siti Manggopoh, karena perjuangannya telah diakui Pemerintah melalui Jenderal Besar AH. Nasution pada tahun 1964 dan dengan SK Menteri Sosial tahun 1964 yang sekaligus memberikan tunjangan atas kepahlawanannya

Gini Efeknya Jika Lo Berhenti Mastrubasi

Terserah lo mau ngaku ato nggak
tapi yang pasti sebagian besar dari pria pasti pernah melakukan masturbasi. Yang menjadi pembedanya, ada yang melakukan masturbasi terlalu sering, namun ada juga yang lebih sering lagi. tapi tau nggak sih ? kalo kita nggak mastrubasi dalam waktu yg lama mampu meningkatkan energi positif dan tingkat produktivitas yang tinggi.

Saya punya beberapa point yang diambil dari beberapa buku yg telah saya baca tentang Efek apa yang terjadi pada tubuh jika kita berhenti melakukan masturbasi setidaknya selama satu minggu. Penasaran, bukan? Langsung aja ke point yang pertama

1. Jika seorang pria tidak melakukan masturbasi selama seminggu, akan menstimulasi otak untuk berpikir bahwa istrinya semakin terlihat cantik. Hal ini adalah rangsangan otak ketika pria merindukan sebuah sentuhan, dan dia hanya akan melihat sang istri yang ada di depannya sebagai salah satu faktor untuk menciptakan pandangan yang begitu memesona.

2. Pria yang tidak melakukan masturbasi selama lebih dari satu minggu, maka tubuhnya akan mengalami kenaikan kadar serum testosteron. bahkan tak tanggung-tanggung, kenaikan tersebut sampai menyentuh angka hampir 45 persen!

3. Setelah bertahan tidak masturbasi selama lebih dari seminggu, maka yang akan terjadi pada pria adalah meningkatnya energi dan kreativitas. Hasilnya, produktivitas pun meningkat seiring berjalannya waktu.

4. Yang terjadi berikutnya cukup mengejutkan ketika Anda berhenti melakukan rutinitas masturbasi. Para ilmuwan pernah mengambil scan otak orang yang doyan dengan kebiasaan masturbasi dan membandingkannya dengan scan seorang pecandu narkoba. Hasilnya tampak serupa.

Nah, ketika Anda berhenti masturbasi, maka otak Anda akan terlihat 'bersih' tanpa pikiran-pikiran 'kotor'.

5. Beberapa orang yang telah berhenti melakukan masturbasi juga melaporkan bahwa aura mereka makin berkembang dan mereka mendapatkan perhatian lebih dari para kaum hawa di sekitarnya.

6. Manfaat lain yang dilaporkan oleh orang yang berhenti masturbasi adalah refleks lebih baik, berpikir lebih cepat, konsentrasi baik, energi bertambah, aura positif muncul, dan kemampuan untuk memahami orang lain serta kasih sayang terhadap pasangan makin tinggi.

10 Fakta Pulau Bali yang Jarang Diketahui Orang.

 Bali tidak hanya dikenal oleh orang Indonesia saja, namun hingga luar negeri. Tidak jarang pula orang luar negeri salah mengartikan Bali dan Indonesia. Sebagian orang di luar sana berpikir bahwa Bali dan Indonesia adalah dua tempat yang berbeda, padahal Bali merupakan bagian dari Indonesia. Namun, sejauh apa sih kamu sebagai orang Indonesia mengenal salah satu pulau yang dikenal dengan banyak wisatawan mancanegara di dalamnya? Berikut adalah 10 fakta tentang Bali.

1. Ternyata nama Bali sudah digunakan dan ada sejak tahun 914. Hal ini dibuktikan dari tulisan di Prasasti Blanjong, yang ditulis oleh Sri Kesari Warmadewa.








2. Pulau Bali sudah dihuni sejak 2000 tahun sebelum masehi, artinya pulau ini sudah ada penduduknya sudah 4 ribu tahun lamanya. Kebanyakan para penghuninya adalah orang ras Austronesia. Selain itu banyak orang India dan Tiongkok yang bermigrasi ke Pulau Dewata ini.





3 Ternyata sebelum Indonesia merdeka, Bali sudah menjadi destinasi yang populer. Salah satu buktinya adalah karya dari Margaret Mead-Gregory Bateston, Miguel Covarrubias Walter Spies, dan Collin PcPhee. Mereka membuat bali makin dikenal berkat karya yang dipublikasikan tahun 1930.






4. Tradisi ciuman massal atau lebih di kenal dengan nama Omed-omedan, di langsungkan sehari setelah perayaan Nyepi oleh warga Banjar Kaja Desa Sesetan, Denpasar. Pasangan pemuda-pemudi setempat akan bergiliran untuk maju untuk berciuman. Kemudian akan ada tetua desa yang datang untuk mengguyur mereka dengan air sampai basah. Ritual ini diyakini warga setempat dapat menghalangi desa mereka dari terserang wabah penyakit.

5. Bali memiliki lokasi sabung ayam terbanyak di Indonesia. Arena sabung ayam terdapat di semua area desa di Bali. Meski kebanyakan dari arena ini bersifat sementara saja di mana hanya digunakan pada hari-hari tertentu pelaksanaan upacara adat. Di Bali sabung ayam disebut dengan tajen yaitu sebuah permainan judi dengan mengadu ayam jago. Permainan ini merupakan permainan judi tertua yang ada di Bali.




6. Ritual Pengerebongan yang diadakan di Pura Petilan Kesiman, 8 hari setelah perayaan Kuningan, terbilang unik, karena selama prosesi banyak Penyungsung Pura (Umat Hindu) yang mengalami kesurupan. Pada saat bersamaan puluhan orang mengalami trance dan tiba-tiba berteriak histeris, menari, serta menusukan keris ke dada, uniknya mereka tidak terluka sedikit pun.




7. Setiap satu tahun sekali, kamu bisa menyaksikan ritual suci perkelahian antar pemuda di Desa Tenganan menggunakan daun pandan berduri, atau lebih dikenal dengan nama Perang Pandan. Ritual ini diadakan sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Indra, yaitu dewa Perang yang paling mereka segani. Layaknya perang di zaman kerajaan, mereka juga memakai tameng yang terbuat dari anyaman bambu.


8. Warga di Desa Trunyan, Kintamani memiliki tradisi pemakaman yang unik, di mana mereka tidak mengubur ataupun membakar mayat (ngaben) ala umat Hindu Bali pada umumnya. Mayat hanya diletakan begitu saja di atas tanah yang dikelilingi oleh pohon Taru Menyan. Anehnya, mayat-mayat di sana tidak menimbulkan bau. Konon harum pohon Taru Menyan lah yang menetralisir bau anyir mayat-mayat di sana.


9. Ritual pembakaran mayat yang dikenal dengan istilah Ngaben adalah wujud pembebasan jiwa manusia untuk kembali kepada Sang Pencipta. Ngaben juga menjadi sangat unik dengan keberadaan replika bangunan meru dan lembu yang disertakan dalam prosesi kremasi tersebut. Bahkan beberapa prosesi Ngaben yang digelar cukup besar dengan membuat meru dengan tinggi belasan meter, seperti salah satunya di lingkungan keluarga Puri Ubud sering menjadi pusat perhatian wisatawan di Bali.


10. Sebelum abad ke-20, jalak Bali bukanlah satu-satunya fauna asli Bali. Setidaknya ada mamalia besar seperti macan tutul, banteng dan macan kumbang yang pernah ada di daratan pulau Bali. Meski saat ini banteng masih dapat ditemui di Bali namun populasi mereka di alam liar telah habis, mereka yang dapat ditemui sudah dalam bentuk binatang peliharaan yang jinak.
Sedangkan macan kumbang dan macan tutul telah punah. Menurut “IUCN Red List of Threatened Species” jejak terakhir dari macan jenis ini ditemukan tahun 1937. Kini satu-satunya spesies hewan asli Bali yang masih dapat ditemui adalah jalak Bali. Namun sayang jumlah populasi burung ini juga kian memprihatinkan dan berada diambang kepunahan.

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa (Foto: Dok. lenteraedukasi.com)

”... Pertahankan bangsamu, pergunakanlah bahasa daerahmu dan pakailah pakaian daerahmu ....”
(Maria Walanda Maramis 1872 - 1924)


Maria Josephine Catharina Maramis. Itulah nama yang diberikan pasangan Bernadus Maramis dan Sarah Rotinsulu kepada putri cantiknya yang lahir tanggal 1 Desember 1872 di Desa Kema, pesisir Timur Minahasa. Kakak pertamanya Andries Alexander Maramis, yang juga seorang pahlawan dan kakak keduanya yang seorang perempuan bernama Antje (Ance).

Pada usia 6 tahun, Maria kecil ditinggalkan kedua orang tuanya karena sakit. Dan akhirnya, Maria dan kedua kakaknya tinggal bersama pamannya, Mayor Ezau Rotinsulu, kepala distrik Tonsea di Airmadidi. Biar Agan tahu, pangkat Mayor di masa itu sejajar dengan gelar Bupati di tanah Jawa.

Oleh pamannya, Maria kecil dan kedua kakaknya disekolahkan di Sekolah Rakyat (sekolah pribumi) selama 3 tahun sampai lulus. Namun cuma kakak laki-laki pertamanya, A.A Maramis, yang melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi. Penyebabnya, masalah ekonomi dan tradisi buruk saat itu yang beranggapan kalau perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Maria kecil sedih tidak bisa meneruskan sekolahnya. Namun dia pantang menyerah. Baginya, belajar bisa di mana saja dan apa saja. Dari bibinya, Ny. Rotinsulu, Maria kecil belajar banyak hal, seperti pelajaran tata krama pergaulan, berpakaian, masak-memasak, dan segala sesuatu yang seharusnya diketahui bagi seorang wanita.

Karena itulah, Maria kecil tumbuh menjadi remaja yang anggun, baik, ramah, suka bergaul, dan dihormati oleh orang-orang sekitarnya.

Ternyata, perjuangan besar itu dimulai dari keluarga tercintanya...

Sosok wanita seperti Maria remaja ini pasti jadi calon istri idaman setiap laki-laki. Dan yang beruntung menikahinya adalah seorang yang berpendidikan, seorang guru yang baru menyelesaikan studinya di Pendidikan Guru di Ambon bernama Jozef Frederik Calusung Walanda. Sejak itulah, sesuai adat Minahasa, namanya menjadi Maria Walanda Maramis.

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa
(Foto: Dok. bode-talomewo.com)

Dari pernikahannya dengan Josef, Maria memiliki 4 orang anak yaitu 3 perempuan dan 1 laki-laki. Tapi anak laki-lakinya meninggal saat kecil. Mungkin ini menjadi “jalan takdir Tuhan” untuk Maria dalam memajukan kaum perempuan. Dimulai dari keluarga kecilnya terlebih dahulu. Apakah Maria mampu atau tidak.

Karena ingin anak perempuannya mendapat pendidikan yang setara dengan kaum laki-laki, Maria dan suaminya berupaya keras untuk menyekolahkan anak mereka setinggi-tingginya. Hingga akhirnya mereka berhasil menyekolahkan anak di ELS (Europe Lagers School) dan ke Batavia untuk melanjutkan ke sekolah guru. Satu fase perjuangan telah berhasil dilalui Maria sebagai pejuang keluarga.

“tidak ada pekerjaan yang sulit, yang ada adalah kita mau mengerjakannya atau tidak.”

Quote:"Ibu Maria sadar benar peran penting seorang ibu dalam rumah tangga. Keberhasilan sebuah rumah tangga sangat tergantung dari peran yang dimainkan oleh seorang ibu, di satu sisi bagaimana melayani dan membahagiakan suami, di sisi yang lain adalah bagaimana mendidik dan mengasuh anak-anak." Bapak Ivan R.B Kaunang, Dosen Ilmu Sejarah & Sejarawan Manado.

Pada jaman itu, banyak perempuan Minahasa yang tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk bekal merantau ke kota maupun yang mau berumah tangga. Makanya, Ibu Maria segera bergerak untuk mengejar cita-citanya mengangkat kaum perempuan dari ketertinggalan dan kebodohan.

Pada 8 Juli 1917, Ibu Maria membentuk PIKAT, Percintaan Ibu Kepada Anak Turun-Temurunnya, yang diizinkan oleh pemerintah Belanda. Bagi Ibu Maria tidak ada pekerjaan yang sulit, yang ada adalah kita mau mengerjakannya atau tidak. Dari organisasi yang dibuatnya inilah Ibu Maria yakin dan percaya bisa mengangkat kaum perempuan Minahasa.

Maria Walanda Maramis: Permata dari Minahasa
(Suasana belajar di huishoudschool. Sumber foto : PIKAT)

Tidak hanya membuat organisasi, Ibu Maria mencoba menyampaikan pandangan, visi misinya, serta ilmu yang dia miliki melalui surat kabar yang dimiliki oleh PIKAT. Beliau juga merealisasikan semuanya melalui Sekolah Rumah Tangga atau huishoudschool yang didirikannya.

Di sekolah itu, para kaum muda perempuan diajari berbagai macam keterampilan seperti menjahit, memasak, membuat prakarya, cara mengurus rumah tangga, dan lain-lain. Karena banyak diminati dan organisasi ini diduduki oleh orang-orang penting, PIKAT menjadi terkenal dan mendirikan cabangnya di seluruh nusantara.

Maria Walanda Maramis, Permata dari Minahasa

Berhasil mengangkat kaum wanita di bidang pendidikan, beliau juga ingin wanita memiliki peran di bidang politik. Dengan kerja keras dan keyakinannya, pada tahun 1921, beliau berhasil membuat wanita memiliki hak suara di parlemen dan lebih hebatnya lagi, berkat Ibu Maria, perempuan pun jadi bisa dipilih menjadi anggota di parlemen di Minahasa Raad.

Jika kita lihat, perjuangan dan pengorbanan beliau begitu besar untuk kaum perempuan. Tidak hanya menuangkan pemikiran melalui tulisan, namun juga bergerak secara langsung demi wanita-wanita Minahasa dan Indonesia. Tidak hanya untuk kepentingan sendiri namun untuk kepentingan kaumnya, kaum perempuan Indonesia.

Meskipun mengaku sangat kagum pada keberhasilan Kartini mengangkat martabat wanita di tanah Jawa, Maria Walanda Maramis layak dikatakan bukanlah sekedar Kartini dari Minahasa. Beliau pantas mendapat sebutan ibu bangsa dari Minahasa. Tak heran, setelah meninggal pada 22 April 1924, pada 20 Mei 1969, beliau mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia. Dan setiap tanggal 1 Desember, selalu digelar peringatan kelahiran Ibu Maria di Minahasa.

Quote:"Mengenal pahlawan, sekali lagi tidak hanya terbatas pada apa dan siapa, serta apa yang dilakukannya, dan yang diperjuangkannya sehingga disebut pahlawan, tetapi yang terutama adalah bagaimana kita yang hidup kekinian dapat mewarisi nilai-nilai perjuangan yang telah dicontohkannya bagi kelangsungan bangsa ini ke depan." Ivan R.B Kaunang, Dosen Ilmu Sejarah & Sejarawan Manado.

Bayangin Gan Sist, bagaimana susahnya zaman dulu menyebarkan pemikiran positif dari sebuah kota kecil ke seluruh Indonesia. Tetapi dengan kerja keras dan keyakinan, Ibu Maria Walanda Maramis berhasil mencapai titik tertinggi demi perempuan Indonesia. So, apa yang ingin kamu capai demi Indonesia?Setuju nggak sih Gan, kalau merdeka itu nggak cuma bebas dari kekejaman fisik dari para penjajah, tapi juga merdeka dari segalanya. Salah satunya diberi pendidikan yang layak. Nah, thread ini akan memerdekakan Agan dan Sista dari pemikiran kalau pahlawan nasional Indonesia tuh cuma itu-itu aja. Padahal masih banyak pahlawan kita yang keren-keren perjuangannya. Dan pastinya, tanpa mereka kita pun nggak bakal merdeka.

Karomah Sahabat-Sahabat Rasulullah Saw [Muslim Wajib Tahu]

*Karomah Abu Bakar Ash-Sidiq R.a Yang Mengetahui Kematiannya*

‘Aisyah bercerita, ‘Ayahku (Abu Bakar Ash-Shiddiq) memberiku 20 wasaq kurma (1 wasaq = 60 gantang) dari hasil kebunnya di hutan. Menjelang wafat, beliau berwasiat, `Demi Allah, wahai putriku, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai ketika aku kaya selain engkau, dan lebih aku muliakan ketika miskin selain engkau. Aku hanya bisa mewariskan 20 wasaq kurma, dan jika lebih, itu menjadi milikmu. Namun, pada hari ini, itu adalah harta warisan untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu, maka bagilah sesuai aturan Al-Qur’an.’
Lalu aku berkata, “Ayah, demi Allah, beberapa pun jumlah harta itu, aku akan memberikannya untuk Asma’, dan untuk siapa lagi ya?’”
Abu Bakar menjawab, `Untuk anak perempuan yang akan lahir.”‘ (Hadis shahih dari `Urwah bin Zubair)

Menurut Al Taj al-Subki, kisah di atas menjelaskan bahwa Abu Bakar Ash Shidiq R.a. memiliki dua karomah.
Pertama, mengetahui hari kematiannya ketika sakit, seperti diungkapkan dalam perkataannya, “Pada hari ini, itu adalah harta warisan.”

Kedua, mengetahui bahwa anaknya yang akan lahir adalah perempuan. Abu Bakar mengungkapkan rahasia tersebut untuk meminta kebaikan hari Aisyah agar memberikan apa yang telah diwariskan kepadanya kepada saudara-saudaranya, memberitahukan kepadanya tentang ketentuan-ketentuan ukuran yang tepat, memberitahukan bahwa harta tersebut adalah harta warisan dan bahwa ia memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki.

Indikasi yang menunjukkan bahwa Abu Bakar meminta kebaikan hati ‘Aisyah adalah ucapannya yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang ia cintai ketika ia kaya selain `Aisyah (puterinya). Adapun ucapannya yang menyatakan bahwa warisan itu untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu menunjukkan bahwa mereka bukan orang asing atau kerabat jauh.

Ketika menafsirkan surah Al-Kahfi, Fakhrurrazi sedikit mengungkapkan karamah para sahabat, di antaranya karamah Abu Bakar R.a. Ketika jenazah Abu Abu Bakar dibawa menuju pintu makam Nabi Saw, jenazahnya mengucapkan “Assalamu ‘alaika yaa Rasulullah, Ini aku Abu Bakar telah sampai di pintumu.”
Mendadak pintu makam Nabi terbuka dan terdengar suara tanpa rupa dari makam, “Masuklah wahai kekasihku ( Abu Bakar )”

*Karomah Abu Bakar R.a, Makanan Jadi Lebih Banyak*

Kisah ini diceritakan oleh ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shidiq R.a, bahwa ayahnya datang bersama tiga orang tamu hendak pergi makan malam dengan Nabi Muhammad Saw. Kemudian mereka datang setelah lewat malam.

Isteri Abu Bakar bertanya, “Apa yang bisa kau suguhkan untuk tamumu?”

Abu Bakar balik bertanya, “Apa yang kau miliki untuk menjamu makan malam mereka?”

Sang isteri menjawab, ‘Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang.”

Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya.”

Abu Bakar mempersilakan para tamunya makan. Salah seorang tamunya berujar, “Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu menjadi bertambah banyak. Kami merasa kenyang, tetapi makanan itu malah menjadi lebih banyak dari sebelumnya.”

Abu Bakar melihat makanan itu tetap seperti semula, bahkan jadi lebih banyak, lalu dia bertanya kepada istrinya, “Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?”

Sang isteri menjawab, “Mataku tidak salah melihat, makanan ini menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya.”

Abu Bakar menyantap makanan itu, lalu berkata, “Ini pasti ulah setan.”

Akhirnya Abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah Saw dan meletakkannya di hadapan beliau. Pada waktu itu, sedang ada pertemuan antara katun muslimin dan satu kaum. Mereka dibagi menjadi 12 kelompok, hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah keseluruhan hadirin. Beliau menyuruh mereka menikmati makanan itu, dan mereka semua menikmati makanan yang dibawa Abu Bakar. (HR Bukhari dan Muslim)

*Karomah Amirul Mukminin Umar bin Khattab R.a*

Umar bin Khattab adalah sahabat Rasul yang diberi karomah dapat berbicara dengan Tuhan. Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh pada umat terdahulu terdapat Muhaddatsun, yakni orang-orang yang berbicara dengan Tuhan. Jika salah seorang mereka ada pada umatku, maka tentu Umar bin al-Khattab”.

Allah Swt telah memberikan al-firasah kepada al-muhaddats (seorang Wali mitra dialog Allah Swt) karena hijab di antara Wali dengan Allah Swt sudah terangkat, Firasat seperti inilah yang dialami oleh Umar bin Khattab ketika beliau berdasar ilham berbicara dimimbar di madinah (sedang ceramah di masjid nabawi), memberikan perintah kepada Sariyah ibn Zunaym, panglima tentaranya (yang pada saat itu sedang berperang dan tentaranya kocar-kacir terkepung pasukan kafir di Irak/persia).

Umar bin Khattab berkata (berteriak) : “Wahai Sariyah ibn Zunaym, di atas bukit! di atas bukit!”.

Para tentara (muslimin) yang sedang berperang di Irak itu mendengar perintah Umar bin Khattab, padahal mereka berada di tempat yang sangat jauh dalam jarak perjalanan satu bulan dari madinah.

Mereka (pasukan muslimin) kemudian menuju ke atas bukit itu dan memperoleh kemenangan atas musuh, berkat pertolongan Allah Swt melalui perintah Umar bin Khattab R.a tersebut” (Apakah Wali itu ada?)

*Karomah Anas bin Malik R.a dan Umar bin Khottob R.a*

Sosok Anas bin Malik R.a sangatlah sederhana. Anas bin Malik sebagai seorang sahabat banyak sekali memiliki kekurangan. Anas adalah orang yang tidak memiliki keahlian, apalagi dalam hal berperang serta dikenal kurang pintar. Namun Umar bin Khattab malah memberikan Anas kepercayaan untuk selalu mendampinginya dalam melakukan perjalanan mensyiarkan syariat islam.

Dibalik kekurangannya itu, Anas ternyata seorang yang taat dalam beribadah. Selain itu kebaikan hati yang ia miliki menjadikan Umar bin Khattab semakin mempercayainya. Suatu hari Umar mengajak Anas untuk mendampinginya melakukan perjalanan menuju suatu daerah. “Anas bin Malik, maukah kau menemaniku melakukan perjalanan?” tanya Umar bin Khattab pada Anas yang sedang berdzikir.
Ternyata Anas diam tidak menjawab pertanyaan Umar bin Khattab. Sehingga Umar bin Khattab bergegas meninggalkan Anas karena mengira tidak mau menemaninya.

DIKEPUNG PERAMPOK
Jauh sudah perjalanan Umar bin Khattab dalam melakukan perjalanan, tapi tanpa disadari Umar bin Khattab, Anas sudah berada dibelakangnya. Anas yang sudah ketinggalan jauh tiba-tiba berada didekat Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab yang baru menyadari itu langsung tercengang karena kaget. “Sejak kapan kau berada dibelakangku?” tanya Umar bin Khattab pada Anas
“Aku mulai berangkat menyusulmu seusai sholat ashar dan aku melihat bayanganmu, akhirnya aku ada dibelakangmu “ jawab Anas dengan lugunya.

Betapa Umar bin Khattab makin terkejut, karena ia berangkat sudah sehari sebelumnya, tepatnya seusai sholat malam ia baru memulai perjalanan. Ia yakin perjalanan yang ia tempuh sudah sangat jauh. Tapi Anas yang baru saja berangkat langsung bisa menyusulnya. Walaupun Umar bin Khattab terkagum-kagum menyadari keajaiban itu, Umar bin Khattab hanya hanya diam dan tersenyum sendiri.

Pada perjalanan malam, sampailah mereka ditempat yang sangat sepi dan gelap. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Tidak lama beristirahat, tiba-tiba ada lima perampok. Anas yang tidak memiliki keahlian apapun sangat kebingungan, karena tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan Umar bin Khattab. Akhirnya Anas mengajak Umar bin Khattab untuk menaiki kuda dan mengendalikan kudanya sekencang-kencangnya. Namun, perampok itu juga menaiki kudanya dan lebih kencang dari mereka berdua. Perampok itu terus mengejar Umar bin Khattab dan Anas.

Sampai akhirnya perampok itu berhasil menyusul Anas dan Umar bin Khattab. Perampok itu mengeluarkan pisau untuk menodong. Anas yang kala itu berdo’a terus agar bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Umar bin Khattab, secara tiba-tiba kuda perampok itu langsung berhenti dan tidak mau digerakkan. Ternyata do’a Anas adalah, “Ya Allah, aku mohon hentikan kuda perampok itu”.

BERKUDA DI LAUT
Anas dan Umar bin Khattab terus menunggangi kuda dengan sangat kencang dan mereka tidak memperhatikan jalan yang mereka lewati, sampai akhirnya mereka tersesat disuatu tempat yang sudah tidak ada jalan dan didepannya hanya ada laut. Belum sempat Umar bin Khattab menuturkan satu kata pun pada Anas, Anas langsung bertanya, “Kenapa berhenti hai wahai Umar Ibn Khattab?”
“Bagaimana aku bisa menjalankan kuda ini, jika jalan yang harus kita lewati adalah laut” jawab Umar bin Khattab
“Insya Allah kita bisa melewati jalan ini, Bismillah” tutur Anas sembari menjalankan kudanya menyebarangi laut yang berada didepannya.

Umar bin Khattab pun langsung mengikuti Anas dan betapa terkejutnya Umar bin Khattab, karena ia dan Anas benar-benar bisa melewati lautan yang luas itu. Kuda terus berjalan seolah terbang di atas lautan. Setibanya didaratan, Umar bin Khattab meminta Anas untuk beristirahat.
“Baiklah Umar, kita istirahat disini, aku juga sangat lelah” jawab Anas

Sewaktu Anas pergi untuk mencari buah-buahan, Umar bin Khattab terkejut setelah menyentuh kaki kudanya yang tetap kering meski melewati lautan, “Sungguh keajaiban” tutur Umar bin Khattab dalam hati. (Kisah Hikmah, 2011)
Anas dan Umar bin Khattab terus menunggangi kuda dengan sangat kencang dan mereka tidak memperhatikan jalan yang mereka lewati, sampai akhirnya mereka tersesat disuatu tempat yang sudah tidak ada jalan dan didepannya hanya ada laut. Belum sempat Umar bin Khattab menuturkan satu kata pun pada Anas, Anas langsung bertanya, “Kenapa berhenti hai wahai Umar Ibn Khattab?”
“Bagaimana aku bisa menjalankan kuda ini, jika jalan yang harus kita lewati adalah laut” jawab Umar bin Khattab
“Insya Allah kita bisa melewati jalan ini, Bismillah” tutur Anas sembari menjalankan kudanya menyebarangi laut yang berada didepannya.

Umar bin Khattab pun langsung mengikuti Anas dan betapa terkejutnya Umar bin Khattab, karena ia dan Anas benar-benar bisa melewati lautan yang luas itu. Kuda terus berjalan seolah terbang di atas lautan. Setibanya didaratan, Umar bin Khattab meminta Anas untuk beristirahat.
“Baiklah Umar, kita istirahat disini, aku juga sangat lelah” jawab Anas

Sewaktu Anas pergi untuk mencari buah-buahan, Umar bin Khattab terkejut setelah menyentuh kaki kudanya yang tetap kering meski melewati lautan, “Sungguh keajaiban” tutur Umar bin Khattab dalam hati. (Kisah Hikmah, 2011)

*Kisah Karomah Utsman bin ‘Affan R.a*

Dalam kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertamu kepada Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya.

Utsman berkata kepada laki-laki itu, “Aku melihat ada bekas zinah di matamu.”

Laki-laki itu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan setelah Rasulullah Saw wafat?”

Utsman menjawab, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.”

Utsman bin Affan R.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.Selanjutnya Taj al-Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih.

Maqam orang-orang seperti itu berbeda-beda. Ada yang mengetahui bahwa yang dilihatnya itu kotor tetapi ia tidak mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi karena mengetahui sebab kotornya, seperti Utsman R .a. Ketika ada seorang laki-laki datang kepadanya, `Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu kotor dan mengetahui sebabnya yakni karena menghayalkan seorang perempuan.

Ibnu Umar bin Khattab R.a menceritakan bahwa Jahjah al- Ghifari mendekati Utsman bin Affan R.a. yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah Swt menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan)

Kisah Karomah Ali bin Abi Thalib R.a : Menyembuhkan Orang Lumpuh

Kisah Ali bin Abi Tholib R.a ini terdapat dalam kitab Al-Tabaqat, Taj al-Subki meriwayatkan bahwa pada suatu malam, Ali bin Abi Tholib R.a dan kedua anaknya, Hasan R.a dan Husein R.a mendengar seseorang bersyair :

“Hai Dzat yang mengabulkan do’a orang yang terhimpit kedzaliman

Wahai Dzat yang menghilangkan penderitaan, bencana, dan sakit

Utusan-Mu tertidur di rumah Rasulullah sedang orang-orang kafir mengepungnya

Dan Engkau Yang Maha Hidup lagi Maha Tegak tidak pernah tidur

Dengan kemurahan-Mu, ampunilah dosa- dosaku

Wahai Dzat tempat berharap makhluk di Masjidil Haram

Kalau ampunan-Mu tidak bisa diharapkan oleh orang yang bersalah

Siapa yang akan meng-anugerahi nikmat kepada orang-orang yang durhaka.”

Ali bin Abi Thalib R.a lalu menyuruh orang mencari si pelantun syair itu. Pelantun syair itu datang menghadap Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Aku, yaa Amirul mukminin!”
Laki- laki itu menghadap sambil menyeret sebelah kanan tubuhnya, lalu berhenti di hadapan Ali bin Abi Thalib R.a.

Ali bin Abi Thalib R.a bertanya, “Aku telah mendengar syairmu, apa yang menimpamu?”

Laki-laki itu menjawab, “Dulu aku sibuk memainkan alat musik dan melakukan kemaksiatan, padahal ayahku sudah menasihatiku bahwa Allah memiliki kekuasaan dan siksaan yang pasti akan menimpa orang-orang dzalim. Karena ayah terus-menerus menasihati, aku memukulnya. Karenanya, ayahku bersumpah akan mendo’akan keburukan untukku, lalu ia pergi ke Mekkah untuk memohon pertolongan Allah. Ia berdo’a, belum selesai ia berdo’a, tubuh sebelah kananku tiba-tiba lumpuh. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan, maka aku meminta belas kasihan dan ridha ayahku sampal la berjanji akan mendo’akan kebaikan untukku jika Ali mau berdo’a untukku. Aku mengendarai untanya, unta betina itu melaju sangat kencang sampai terlempar di antara dua batu besar, lalu mati di sana.”

Ali bin Abi Tholib R.a lalu berkata, “Allah akan meridhaimu, kalau ayahmu meridhaimu.”
Laki-laki itu menjawab, “Demi Allah, demikianlah yang terjadi.”
Kemudian Ali berdiri, shalat beberapa rakaat, dan berdo’a kepada Allah dengan pelan, kemudian berkata, “Hai orang yang diberkahi, bangkitlah!”
Laki-laki itu berdiri, berjalan, dan kembali sehat seperti sedia kala.
”Jika engkau tidak bersumpah bahwa ayahmu akan meridhaimu, maka aku tidak akan mendo’akan kebaikan untukmu.” `Kata Ali bin Abi Tholib

Sugi, 17 Tahun Mengajar dengan Kondisi Lumpuh

BANYUMAS, Indonesia — Separuh badan Sugiarto (38 tahun), warga Desa Karangbawang, Banyumas, Jawa Tengah, boleh saja mati rasa, namun semangatnya untuk mengajar tak pernah lumpuh.
Sugi, 17 Tahun Mengajar dengan Kondisi Lumpuh
Dua puluhan bocah berbusana Muslim mengucapkan salam saat memasuki kamar Pak Ustadz Sugiarto. Masing-masing bergantian menyalaminya, lalu menempatkan diri mereka di sisi ranjang.

Keterbatasan ruang membuat para bocah itu harus duduk berhimpitan. Seketika kamar sempit itu berubah menjadi ruang kelas.

Sugi, begitu ia biasa dipanggil, hanya bisa melirikkan bola mata untuk menatap murid-muridnya. Kepalanya susah digerakkan. Separuh badannya ke bawah lumpuh total.

Beruntung lidahnya masih normal. Tangannya masih dapat mengangkat kitab Al-Qur’an meski harus disandarkan di dada. Sugi memimpin doa untuk mengawali pembelajaran yang diikuti murid-muridnya.

Pembelajaran pun dimulai. Ia menyimak santrinya membaca Al-Qur’an secara bergantian. Jika ada bacaan yang salah, tugasnya adalah membetulkannya.

Sugi juga telaten menuntun siswa belia yang baru belajar mengeja lafal Arab. Aktivitas pembelajaran itu dimulai pukul 15:00 WIB hingga 18:00 WIB setiap harinya.

Tujuh belas tahun sudah, Sugi istiqamah mengajar pendidikan agama untuk anak-anak di desanya dengan cara berbaring karena lumpuh. Untuk sekadar duduk pun ia tak mampu.

Sugi menyadari sebagian besar fisiknya telah mati rasa. Namun ia bersyukur, masih ada organ yang berfungsi dan bisa ia pakai untuk memberi manfaat bagi orang lain.

"Tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik, dalam kondisi apapun. Jika saya tidak berbuat apa-apa, hidup saya hanya sia-sia menunggu kematian," katanya penuh harap.

Bagi Sugi, pendidikan agama penting bagi anak-anak untuk menanamkan akhlak serta menjauhkan mereka dari pergaulan bebas.

Ia pun tidak memungut sepeserpun kepada orangtua siswa untuk pendidikan anak mereka. Sugi ikhlas tak dibayar meski hidupnya penuh dengan kekurangan.

Mengajar dengan kondisi demikian tentu bukan hal mudah. Sugi mengajar sambil sesekali meringis menahan sakit.

Sugi telah pasrah dengan kondisi kesehatannya. Yang ia harapkan, ia bisa tetap istiqamah mengajar hingga akhir hayatnya.

"Harapan saya cuma istiqamah. Saya akan terus mengajar hingga Allah memanggil saya," ucapnya.

Sugi, 17 Tahun Mengajar dengan Kondisi Lumpuh
Berawal dari kecelakaan

Sugiarto mengajar sambil berbaring karena tubuhnya tak kuasa gerak. Foto oleh Irma Muflikah/Rappler

Sugiarto mulai mengajar sejak sebelum lumpuh, sekitar 20 tahun silam. Ia adalah jebolan sebuah Pondok Pesantren ternama di Banyumas.

Suatu ketika, peristiwa naas menimpanya. Ia tertabrak bus antarprovinsi di jalan raya saat selesai mengajar mengaji siswanya.

Sugi sempat dirawat 40 hari di sejumlah rumah sakit untuk kesembuhan lukanya. Selama dirawat di rumah sakit, pendidikan Al-Qur’an di rumahnya sementara terhenti. Anak-anak didiknya menanti cemas di rumah sambil menunggu sang ustadz pulang dan kembali mengajar.

Setelah 40 hari dirawat dan tak kunjung membaik, Sugi memutuskan pulang. Apalagi, dokter telah memvonisnya lumpuh total.

Sekembalinya dari rumah sakit, Sugi kembali membuka kelas. Namun keadaannya kini berubah. Ia terpaksa memindahkan kelas pembelajaran di dalam kamar lantaran tubuhnya tak bisa bergerak. Ia harus mengajar sambil berbaring.

"Selama dirawat di rumah sakit saya kepikiran murid-murid saya, mereka tidak ada yang mengajar, akhirnya saya pulang," akunya.

Tasem, ibunda Sugiarto, adalah perempuan yang setia mendampingi dan merawat anaknya. Tiga hari sekali, ia mengganti perban untuk menutupi luka pada kaki Sugi yang membusuk.

Air mata Tasem mengalir saat menceritakan keadaannya anaknya yang memprihatinkan. Sejak menderita lumpuh 17 tahun lalu, kondisi kesehatan Sugi terus menurun. Tubuhnya kurus kerontang dan sering sakit-sakitan. Kakinya yang telah mati rasa justru timbul luka yang membau.

Selain merawat luka, beberapa hari sekali, Sugi dibantu warga sekitar mengangkat tubuh Sugi yang bergeser dari posisinya semula.

Tasem berkeinginan untuk memeriksakan anaknya kembali ke rumah sakit. Selalu ada asa untuk kesembuhan anaknya. Namun ketiadaan biaya memaksanya pasrah. Ia juga tidak memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah meski tergolong warga miskin.

"Inginnya ganti perban setiap hari. Tapi karena kurang biaya, saya beli perban di apotek dan menggantinya tiga hari sekali," kata Tasem.

Di sisi lain, Tasem terenyuh melihat keteguhan hati putranya yang istiqamah mengajar meski dalam kondisi lumpuh.

Sebagaimana harapan putranya yang ingin istiqamah mengajar, ia pun berharap diberi kekuatan agar bisa istiqamah merawat anaknya, hingga akhir hayat.

Jolastri, wali siswa Fahru Nurudin (9 tahun), punya alasan tersendiri untuk memercayakan pendidikan putranya kepada Sugiarto.

Sugi diakuinya sebagai guru yang alim dan menguasai pengetahuan agama. Lebih dari itu, ia adalah seorang yang ikhlas mendedikasikan waktunya untuk mengajar tanpa memungut bayaran.

Jolastri, ibu Fahru, juga membawakan makanan untuk sang guru. Berkat jasa sang ustad, kata Jolastri, anaknya yang telah tiga tahun berguru pada Sugi kini sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Karakter Fahru juga terjaga karena sering mendapat nasihat positif dari sang guru.

"Kami sebenarnya kasihan melihat kondisi ustad. Dia ikhlas mengajar meski kondisinya sakit," kata Jolastri.—Rappler.com

Buat kita yang masih sehat, harus banyak-banyak bersyukur nih gan. Semoga ada yang tergerak membantu biaya kesehatan untuk Ustadz Sugi supaya kondisinya bisa lebih baik. Aminn

Terpecahkan! Ini Penjelasan Bagaimana Otak Mampu Mengenali Wajah

Tidak ada orang yang bisa mengenali orang lain dengan terburu-buru walaupun wajah yang dilihat familiar. Para ilmuwan sendiri sulit sekali untuk menjelaskan bagaimana otak manusia mengidentifikasi wajah-wajah yang familiar.

Dilansir dari Medicalxpress.com, kini para peneliti di The Rockefeller University telah mengungkap misteri bagaimana otak mengenali wajah-wajah yang familiar. Winrich Freiwald, kepala Laboratorium Neural Systems dan Sofia Landi, seorang mahasiswa pascasarjana menemukan 2 wilayah otak yang sebelumnya tidak diketahui dapat mengidentifikasi wajah.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa otak mengandung area yang merespon secara selektif terhadap wajah dibandingkan dengan jenis objek lainnya. Mereka juga tahu bahwa manusia memproses wajah yang familiar dan asing dengan cara yang berbeda. Namun, usaha untuk meramalkan dasar saraf untuk membedakan antara persepsi wajah yang asing dan familiar pada manusia terbukti tidak meyakinkan.

Freiwal dan Landi beralih pada kera, untuk mengidentifikasikan bagaimana mereka bisa mengenali wajah, mereka menggunakan kera sebagai bahan penelitian karena lebih mudah dipelajari dibanding dengan manusia dan karena kera memiliki banyak kesamaan dengan manusia.

Dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional, Landi dan Freiwald mengukur aktivitas otak kera saat mereka merespon gambar wajah lain. Wajah-wajah tersebut dibagi dalam 3 kategori, orang yang akrab dan pernah tinggal bersama dalam waktu yang lama dengan kera, orang yang akrab dengan mereka karena sering melihat orang tersebut ratusan kali, dan wajah yang benar-benar asing.

Para peneliti mengharapkan jaringan pengolah wajah kera bereaksi sama dengan dua jenis wajah pertama. Namun sebaliknya, keseluruhan sistem menunjukkan aktivitas lebih dalam untuk menanggapi wajah kenalan lama. Wajah yang hanya familiar secara visual menyebabkan berkurangnya aktivitas di beberapa daerah.

TAUBAT NASUHA YUUK.. ( PEMBUKA SEGALA YANG TERKUNCI )

Tujuan : Pengakuan dosa kita kepada Allah
Manfaat : Pembuka pintu rejeki, pekerjaan, jodoh, dapet keturunan, usaha, ketenangan batin, jauh dari bala, semuanya say....yg kekunci kebuka!!!...
Selain pengakuan dosa kepada Allah, taubat ini juga me"RESET" keadaan kita kembali ke kondisi
fitrahnya manusia kembali ke NOL..layaknya seorang bayi yg baru lahir...coba bayangin ...bayi
ketika nangis entah lapar atau haus...pasti di kasih susu atau makanan dengan segera...begitu juga dgn diri kita sehabis melakukan taubat nasuha insya Allah doa kita cepet di kabulkan karena "hijab" yg menghalangi doa kita sudah diangkat....tetapi ingat..Allah juga akan selalu menguji dan memberikan yg terbaik kepada hamba-Nya...jadi tetap berbaik sangka saja kepada Allah...
script async="" src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"> Kita cuma di suruh ngaku aja kok....ini loh aku ya Allah yg banyak dosa...
dan pengakuanya cuma kita sama Allah aja...bukan didepan umum!!!
gimana ga sayang allah sama kita !!...kita punya aib di tutupi-Nya..cuma di tampakan pada kehidupan kita yg selalu nge-blangsak!..tapi emang dasar manusia pendosa itu hatinya di kunci...ya sudah makin jauh dia dari hidayah-Nya...udah di dunia sengsara ditambah susah, apalagi di akhirat?...
melaui trit ini ane cuma mengajak ..dan menghimbau...
ane cuma takut ketika di tanya sama Allah di akhirat : " ente punya ilmu komputer.( sering online ) .apa yg sudah ente berikan ( amalin ) untuk agama dan orang lain? "
nah loe....!!..sampaikan ilmu itu walau 1 ayat saja..
manusia = selalu lupa..dan selalu berbuat dosa...
ada dosa yang kecil, sedang hingga besar...dan syirik ( dosa yang tiada ampun )....dalam kehidupan kita di dunia ini, selalu di jejali segala bentuk masalah.
ada yang di uji dengan nikmat enak dan ada yang di uji dengan nikmat tidak enak seperti : sakit parah hampir semua penyakit bersumber dari hati,seperti : jantung, stroke, asem urat, diabetes, kanker dll....miskin..apess terus..sial terus ..jomlo terus, mau nikah gagal terus, ga dapet kerja..usaha bangkrut terus...kena santet..rejeki seret..bisnis gagal..kebakaran, tabrakan, ditipu orang..dirampok, di khianati..dll
tapi ingat bro n sis...kita lihat dulu apakah itu ujian atau azab dari Allah swt ?....byk yang terjebak untuk point disini...mereka hanya tau ahh itukan ujian...padahal kalo kita bercermin pada diri sendiri...selalu berbuat maksiat...
ada 10 daftar dosa besar yang membuat terkunci hingga Allah murka kepada kita...
diantara 10 dosa besar itu :
1. Syirik ( yang pernah kedukun )...ngaku aja say
2. Meninggalkan Shalat....katanya gak gaul kalo sholat...cape2xin...coba di
pikir2...udah lengkap belum yg 5 waktu?
3. Durhaka - kepada 2 ortu kita..--> harus minta maaf langsung!!!...
4. Zina - yg sering neh ...zina mata ( suka liat gambar,video porno atau semi porno , nah yg buat pacaran ati2x...berzinah seperti layaknya suami istri ( dianggap hal biasa ) ciuman ( kissing ), petting oral...dll dan suka main psk or selingkuh!
5. Rizqy Haram --- asal caplok aja dan masuk perut...
6. Mabok / Judi -- tau sendiri dah gan...
7. Memutus Silaturrahim -- ga mau bertemen or saudara.
8. Bohong (nuduh zina, saksi palsu, bohong) - ayo ngaku?
9. Kikir / pelit ---jarang beramal khususnya abis gajian, atau dapet proyek..jgn lgsung dimakan gan...ada hak org lain di dalamnya...sumbangin dulu 2,5% baru digunakan.
10. Ghibah / Gosip -- ini yang susah ngilangin buat kaum hawa...maaf ya...
akibat dari salah satu dosa besar itu...kita ngeblangsak....itu baru di dunia...belum di
akhirat!!!....sebenarnya Allah itu sayang sama kita!khususnya didunia ini bagi yg masih hidup ya ..cuma emang dasar hati kita itu sudah mati, ga bisa baca keadaan diri kita kenapa ya
saya selalu begini atau begitu...itu sebenarnya teguran dari allah seperti sakit atau musibah lainn, coba kalau Allah kasih teguran yg lebih hebat lagi setiap manusia punya dosa timbul bisul besar di
tubuhnya..bisa di bayangkan seperti apa bentuk manusia yg punya dosa besar?... tapi manusia
kebanyakan sombong, dia malah cari jalan lain atau solusi lain..kata Allah ya silahkan saja! la wong langit dan bumi ini milik saya! mau kemana kalian ?..karena akar masalahnya itu ada di diri kita sendiri....ada hukum sebab akibatnya ( sunatullah itu berlaku )....nauzubillah min zalik!!!..
gimana cara ngebuka kuncian nya??...
Dengan taubat !!!...
simple ....sebenernya hidup itu simple...kita cuma di suruh ibadah aja sama allah...ya ibadah aja ..kek sholat...beramal...dll...biar allah yg cukupi kebutuhan kita2x...
“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat: 56 )
masih ga percaya?...buktiin aja...jgn setengah2x ya!!!....harus 100%...
caranya taubat :
1. mandi taubat = tujuannya pensucian jasmani dan ruhani..utk memulai kehidupan baru yg bersih...
niatnnya : aku niat mandi taubat karena Allah ta'ala...( dalam hati - karena di kamar mandi ).
lalu guyur dan basahi rambut, dan badan seperti biasa..dan bersihkan badan....
2. ambil wudhu
3. Sholat Sunah Taubat.
Niat Shalat Taubat :
Niat shalat taubat adalah sebagai berikut:
Artinya: Saya niat shalat sunnah taubat dua rokaat karena Allah. ( usholi sunatan taubati rok' ataini lillahi ta'ala...)
Bacaan Shalat Taubat
Rakaat pertama: Membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Kafirun
Rakaat kedua: membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas.
atau yang mudah di baca dari ayat alquran.
Doa Dan Bacaan Setelah Shalat Taubat
Setelah salam, lalu membaca istighfar 100 kali
( astagfirullah al azim ) - inget dosa yg kita
perbuat ..hayati ....lalu min jami'il ma'ashi waz zunub taubatan nasuha wala haula walaquwata illa billah hil aliyil azim.
boleh di tambah puji -pujian tasbih ( subhanallah 33x ) tahmid ( alhamdulillah 33x ) dan takbir ( Allahu akbar 33x ), lalu laa ilaha ilallah 33x atau 100x.
baca sholawat nabi " allahuma sholi ala sayidina muhammad wa ala ali sayidina muhammad 11 x (
terserah aja )..
kemudian silahkan berdoa pakai bahasa indonesia juga ga apa2x..
silahkan berdoa mohon ampun dan menyesali perbuatan dosa dari hati yg paling dalam...setelah itu
bebas gan...minta apa aja. berjanji tidak akan mengulangi lagi...meski namanya manusia sering
lupa...tapi ga usah takut ..yg penting ada niat taubat dan memperbaiki diri kearah
positif...lambat laun akan sempurna...butuh proses semua itu..
4. jgn lupa jaga sholat 5 waktunya ..dan baca istigfar sehabis sholat kalau mampu 100x atau
semampunya...dan byk2x beramal...kecil ga apa2x yang penting istiqomah ..bukan besar atau kecil nilainya.

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.