17 August 2017

Bimbingan Islam Adab Menjenguk Orang Sakit dari Sisi Syariat dan Medis

Di dalam Islam, menjenguk saudara sesama muslim yang sakit merupakan amal yang sangat utama. Berikut ini beberapa adab yang perlu kita terapkan saat menjenguk saudara yang sedang sakit, baik di rumah maupun di rumah sakit.
  1. Ikhlaskan Niat untuk Mencari Ridha Allah Ta’ala­­
Menjenguk saudara muslim yang sakit adalah amal berpahala besar. Namun amal hanya diterima oleh Allah Ta’ala jika dilakukan secara ikhlas. Oleh karena itu, saat menjenguk orang sakit kita harus hadirkan niat yang ikhlas untuk mencari ridha Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.
Apabila seseorang menjenguk saudaranya muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

  1. Perhatikan Waktu Kunjungan
Rumah sakit biasanya telah menetapkan jam bezuk pasien. Pembatasan waktu bezuk diperlukan karena pada jam-jam tertentu pasien harus mendapatkan perawatan. Selain itu, pembatasan waktu bezuk bermanfaat untuk memberi waktu beristirahat bagi pasien.
Selain jam bezuk rumah sakit, pemilihan waktu bezuk juga harus memperhatikan kondisi pasien. Sebagai contoh, ibu yang baru saja melahirkan biasanya membutuhkan istirahat total pada sekitar 24 jam setelah melahirkan. Demikian karena proses kelahiran dapat berlangsung berjam-jam dengan keadaan yang sangat melelahkan.

  1. Perhatikan Instruksi Petugas Rumah Sakit
Rumah sakit terkadang menerapkan aturan khusus pada pasien dengan kondisi khusus. Ada aturan dimana pembezuk harus mengenakan masker, aturan pembatasan jumlah pembezuk, dan lainnya. Pada dasarnya aturan semacam ini dibuat untuk menjaga keselamatan pasien dan pembezuk.

  1. Saat Laki-laki Menjenguk Wanita dan Sebaliknya
Pada dasarnya seorang laki-laki boleh menjenguk wanita yang sakit dan sebaliknya, meskipun bukan mahram. Akan tetapi, adab pergaulan secara umum seperti menghindari ikhtilat, khalwat, dan pandangan yang haram tetap wajib dijaga.
Hadits di bawah ini menunjukkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menjenguk Bilal radhiyallahu ‘anhu yang sedang sakit, padahal keduanya bukan mahram.
Bukhari juga meriwayatkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Ketika Rasulullah shallaallahu’alaihi wa sallam sampai di Madinah, Abu Bakar dan Bilal menderita sakit. Lalu Aisyah menjenguk mereka berdua. Aku bertanya; “Wahai ayahku, bagaimana keadaanmu? Dan engkau Bilal, bagaimana keadaanmu?” Aisyah melanjutkan; Dan setiap kali Abu Bakar menderita sakit panas, maka dia akan berkata; “Setiap orang bertanggung jawab terhadap keluarganya dan kematian itu lebih dekat dari pada tali sandalnya.” Sedangkan jika Bilal menderita sakit demam, dia akan berkata; “Alangkah baiknya syairku, apakah aku harus bermalam di suatu lembah sementara di sampingku terdapat orang-orang yang membanggakan lagi mulia. Apakah suatu hari mereka akan menginginkan airnya yang melimpah. Apakah sudah tampak olehku gunung Syamah dan Thafil?” Aisyah berkata; Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallaallahu’alaihi wa sallam dan mengabarkan keadaan mereka kepada beliau. Lalu beliau berdo’a: Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Madinah seperti kecintaan kami kepada Mekkah atau lebih. Ya Allah, perbaikilah ia, Berkahilah kami pada takaran mudnya dan sha’nya dan pindahkanlah wabah penyakitnya ke Juhfah.” (HR. Bukhari no. 5222).

  1. Memilih ‘Buah Tangan’ untuk Saudara yang Sakit
Tentu kita ingin buah tangan yang kita bawa bermanfaat bagi saudara kita. Namun, terkadang di rumah sakit dijumpai buah-buahan dari para pembezuk yang menumpuk dan kurang termanfaatkan. Maka dalam memilih buah tangan untuk saudara kita, kita perlu pertimbangkan apa yang dia butuhkan. Apakah dia membutuhkan makanan untuk dirinya, makanan untuk penunggunya, atau justru bantuan finansial yang ia butuhkan.

  1. Hiburlah Saudara yang Sakit
Cara memberikan hiburan kepada saudara yang sakit perlu disesuaikan dengan sifatnya dan kondisi jiwanya. Kita bisa secara lugas mengatakan, “yang sabar ya…” Namun bisa jadi kalimat lugas semacam itu justru menyinggungnya karena ia merasa sudah bersabar. Maka kalimat hiburan kita perlu disesuaikan dengan kondisi kejiwaan dan watak saudara kita tersebut. Di antara kalimat penghibur terbaik ialah yang diajarkan oleh Nabi
لا بَأْسَ طَهُورٌ إنْ شَاءَ اللهُ
“Tidak apa-apa. (Sakit ini) sebagai penghapus dosa, insyaAllah.” (HR. Bukhari dalam Fathul Baari no 10/118)

  1. Berucap yang Baik dan Doakan Saudara yang Sakit
Mendoakan orang sakit adalah amalan mulia. Berikut ini beberapa hadits mengenai mendoakan orang sakit.
Dalam Shahih Muslim dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيْضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُوْلُوْا خَيْراً فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ،
Apabila kalian mendatangi orang sakit atau orang yang meninggal dunia, hendaklah kalian mengucapkan kata-kata yang baik (mendoakannya), karena sungguh malaikat akan mengamini doa yang kalian ucapkan.” (H.R Muslim)
  1. Jaga Privasi Saudara yang Sakit
Privasi tetap harus kita hormati, baik saat menjenguk maupun sepulang dari menjenguk orang sakit. Sebagai contoh, saat menjenguk sebaiknya kita tidak menanyakan hal-hal detail yang ‘memaksa’ si sakit menjawab padahal dia merasa malu atau tidak suka menjawabnya. Sepulang dari menjenguk, hendaknya kita menahan diri dari bercerita yang tidak perlu berkaitan dengan kondisi si sakit, terlebih mengenai hal-hal yang sensitif. Contoh riil misalnya pembezuk bercerita kepada orang lain tentang (maaf) bau tidak sedap pada pasien dengan ulkus di kaki. Perkataan seperti ini dapat tergolong sebagai ghibah yang merupakan dosa besar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menceritakan sesuatu tentang saudaramu, apa yang tidak dia sukai.” Ada yang bertanya, “Bagaimana jika yang kuceritakan memang ada pada saudaraku tersebut?” Beliau menjawab, “Jika yang kau ceritakan tadi memang ada pada saudaramu, itulah ghibah. Namun jika ceritamu tidak sesuai dengan keadaan dirinya, berarti kau membuat kedustaan baginya.” (HR. Muslim no. 4796).

sumber : kesehatan muslim by:

No comments:

Post a Comment